Minggu, 10 November 2013

Konsturksi Kandang Sapi


Pada posting terdahulu sudah dijelaskan bagaimana memilih lokasi untuk membangun atau mendirikan kandang sapi potong, sekarang kita lihat bagaimana membangun dan meletakan kandang sapi jika lokasi sudah ditentukan.

1. Tata letak kandang.
Letak kandang harus lebih tinggi dari linkungan sekitarnya agar tidak tergenang, selain itu juga memudahkan pembuangan limbah cair. Untuk kandang satu baris lebih baik jika kepala sapi menghadap ke timur, walaupun belum ada penelitian akan hal ini tetapi dari pengalaman sapi yang menghadap ke timur hasilnnya akan lebih baik. Jika kandang dua baris maka kandang membujur utara selatan.

2. Konstruksi Kandang
Yang perlu diingat bahwa konstruksi kandang harus kuat agar tidak mudah roboh, bahan yang digunakan murah, sirkulasi udara lancar, mudah dalam pengelolaan ( pemberian pakan maupun pembersihan kotoran dan sisa pakan)

  • Bahan Kandang, bahan untuk konstruksi bisa dari kayu, beton atau besi disesuaikan dengan dana dan ketersediaan di daerah masing masing, setidaknya bahan yang digunakan mampu bertahan 5 sampai 10 tahun.
  • Lantai kandang, tidak boleh licin agar ternak tidak terpelesat. bahan lantai bisa dari beton, papan kayu, atau tanah yang dipadatkan dengan dilapisi jerami kering agar urin mudah terserap. Lantai dibuat miring 2 - 5 %, kemiringan laantai tidak boleh terlalu miring. Jika lantai kandang terlalu miring menyebabkan sapi terpeleset dan cedera, selain itu beban bobot badan sapi akan tertumpu pada kaki belakang yang menyebabkan kuku dan kaki belakang bengkok. contoh kemiringan lantai kandang seperti gambar dibawah ini:




  • Atap Kandang terbuat dari bahan genteng, seng, rumbia, asbes dan lain-lain.Untuk daerah panas (dataran rendah) sebaiknya menggunakan bahan genting sebagai atap kandang. Kemiringan atap untuk bahan genting adalah 30 – 45 % , asbes atau seng sebesar 15 – 20 % dan rumbia atau alang-alang sebesar 25 – 30%, Ketinggian atap untuk dataran rendah 3,5 – 4,5 meter dan dataran tinggi 2,5 – 3,5 meter. Bentuk dan model atap kandang hendaknya menghasilkan sirkulasi udara yang baik di dalam kandang, sehingga kondisi lingkungan dalam kandang memberikan kenyamanan ternak. Berdasarkan bentuk atap kandang, beberapa model atap yaitu atap monitor, semi monitor, gable dan shade. Model atap untuk daerah dataran tinggi hendaknya menggunakan shade atau gable, sedangkan untuk dataran rendah adalah monitor atau semi monitor. Contoh Model atap kandang seperti gambar dibawah ini:



  • Dinding kandang, bisa terbuat dari papan kayu, beton ataupun bambu. pada daerah dataran tinggi yang cukup dingin dinding dibuat paling tidak setinggi sapi ketika berdiri dan lebih rapat, sedangkan pada daerah dataran rendah yang cukup panas bisa tanpa dinding tetapi cukup pagar pembatas agar sapi tidak keluar kandang.
  • Lorong kandang, pada kandang dua baris lorong kandang merupakan sekat/ antara baris satu dengan lainnya, lorong kandang ini di buat agak lebar (1 -2meter) agar memudahkan mengangkut pakan untuk kandang kepala saling berhadapan (head to head) dan memudahkan pembersihan untuk kandang yang saling membelakangi (tail to tail). Gambar Lorong kandang seperti di bawah ini:


3. Perlengkapan Kandang
Beberapa perlengkapan kandang untuk sapi potong meliiputi : palungan yaitu tempat pakan, tempat minum, saluran darinase, tempat penampungan kotoran, gudang pakan dan peralatan kandang. Disaping itu harus dilengkapi dengan tempat penampungan air yang terletak diatas (tangki air) yang dihubungkan dengan pipa ke seluruh kandang.

  • Palungan merupakan tempat pakan dan tempat minum yang berada didepan ternak, terbuat dari kayu atau tembok dengan ukuran mengikuti lebar kandang. Sedangkan lebar palungan adalah 50cm, dan tinggi bagian luar 60 cm dan bagian dalam sebesar 40cm. Ukuran palungan untuk kandang kelompok adalah mengikuti panjang kandang, dengan proporsi tempat minum yang lebih kecil dari tempat pakan. Berikut contoh gambar tempat pakan.
  • Selokan merupakan saluran pembuangan kotoran dan air kencing yang berada dibelakang kandang ternak individu. Ukuran selokan kandang disesuaikan dengan kondisi kandang dan tujuan pemeliharaan. Ukuran selokan digunakan pada untuk  kandang individu, dengan ukuran lebar 30 – 40 cm dan dalam 5 – 10 cm.
  • Tempat penampungan kotoran atau bak penampungan yang terletak dibelakang kandang, ukuran dan bentuknya disesuikan dengan kondisi lahan dan tipe kandangnya. Pembuangan kotoran dari kandang kelompok dilakukan setiap 3-4 bulan sekali sesuai dengan kebutuhan, berupa bak penampungan limbah padat berupa feces dan berfungsi untuk proses pengeringan dan pembusukan feses menjadi kompos. Untuk limbah cair seperti air kencing dan air sisa pencucian kandang yang bercampur kotoran dapat langsung masuk digester biogas, jika tidak masuk ke digester biogas dapat berupa kolam yang tentunya letaknya lebih rendah daripada kandang.
4. Peralatan Kandang
Beberapa peralatan yang banyak digunakan untuk kandang sapi potong meliputi : sekop untuk membersihkan kotoran, sapu lidi, sikat, tali sapi dan kereta dorong (gerobak).

5. Ukuran Kandang
Untuk kandang individu umumnya berukuran 1,5m dan pandang 2,5 meter. akan tetapi ukuran ini tidaklah baku menyesuaikan besar kecilnya sapi dan status fisiologisnya. Untuk penggemukan sapi timor (sapi bali yang ada di NTT) ukuran kandang bahkan bisa hanya 75 cm, dimana pergerakan sapi dibatasi.

Untuk lebih lengkap file tersebut dapat download di link berikut :
Merancang Kandang Sapi Potong

Kamis, 17 Oktober 2013

Recording Usaha Peternakan

Recording adalah suatu usaha yang dikerjakan oleh peternak untuk mencatat gagal atau berhasilnya suatu usaha peternakan. Di bidang usaha peternakan program ini diterapkan hampir pada semua sektor usaha ternak mulai ternak unggas (layer, broiler, penetasan), ternak potong (sapi perah, sapi potong, kambing dan domba), dan aneka ternak seperti kelinci dan lainnya. Mengingat manfaat dan pentingnya program ini maka masalah ini perlu diangkat  walaupun sudah banyak tulisan yang serupa dengan harapan artikel ini menjadi bahan pelengkap dari artikel yang sudah ada.
Banyak faktor yang menentukan keberhasilan usaha peternakan. Faktor tersebut kalau dikelompokkan akan mengerucut menjadi tiga faktor utama yaitu faktor pakan, bibit dan manajemen pemeliharaan (lingkungan). Faktor bibit, pakan, dan manajemen pemeliharaan, semuanya saling terkait mendukung keberhasilan usaha sehingga tidak bisa mengabaikan salah satunya. Dan cukup menjadi salah satu cermin manajemen yang baik adalah adanya catatan produksi baik catatan produksi harian atau bulanan yang tertib.
Apa saja yang perlu pencatatan? Dalam usaha peternakan banyak sekali komponen recording yang harusnya mendapat perhatian antara lain : jumlah populasi, jumlah pemberian pakan, jumlah produksi harian yang dihasilkan, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, tingkat kematian (mortalitas) ternak yang dipelihara, penyakit yang menyerang, riwayat kesehatan (medical record), obat yang dibutuhkan, vaksinasi yang dibutuhkan dan masih banyak lainnya. Intinya semakin banyak pencatatan yang dilakukan akan semakin baik manajemen usaha yang di jalankan. Perlu diperhatikan juga bahwa recording yang dilakukan juga harus mudah dipahami oleh penggunanya
Kegunaan recording :
1. Mengetahui jumlah populasi akhir. Ini perlu karena bagaimanapun letak keuntungan ditentukan oleh jumlah populasi akhir. Dengan diketahuinya populasi akhir kita juga akan mengetahui jumlah ternak yang mati, hilang, dan sebagainya selama masa pemeliharaan
2. Untuk bahan pertimbangan dalam penilaian tata laksana yang sedang dilaksanakan. Seperti tingkat pertambahan berat badan (PBB), Feed Consumtion Rate (FCR), jumlah produksi, kesehatan ternak
3. Sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan sehari-hari
4. Sebagai langkah awal dalam menyusun rencana jangka panjang
5. Bagi pemerintah berguna untuk penyusunan kebijakan dalam bidang peternakan seperti apakah diperlukan import untuk pemenuhan kebutuhan sehingga produksi tetap seimbang
6. Mempermudah peternak melakukan evaluasi, mengontrol dan memprediksi tingkat keberhasilan usaha
7. Bagi perguruan tinggi data recording bisa sebagai bahan penelitian

Di negara berkembang recording belum banyak di lakukan karena beberapa hal :
1. Rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki oleh peternak
2. Kurangnya perhatian peternak terhadap sistem recording
3. Sedikitnya jumlah ternak yang dimiliki oleh peternak
4. Belum menjalankan program pemuliaan ternak
            Recording yang baik adalah recording yang data-datanya dapat dipertanggung jawabkan dan dapat dipercaya serta selalu aktual tiap hari. Recording akan mempermudah membuat keputusan yang tepat untuk program selanjutnya. Nah, sudah waktunya kita sedikit professional dalam mengelola usaha kita.
Banyak cara dan bentuk pencatatan yang sangat bervariasi ber-dasarkan kebutuhan dan selera peternak sendiri. Begitu beraneka ragamnya pencatatan dari yang sulit sampai dengan yang paling sederhana, tetapi kesemuanya itu yang penting adalah bentuk yang sederhana, tetapi jelas bentuk mana yang dapat memenuhi kebutuhan yang pokok dan mudah dimengerti baik oleh peternak, petugas maupun pendatang/tamu serta mudah dilaksanakan.
"Catat yang anda rencanakan, Lakukan apa yang sudah anda catat, dan Catat kembali apa yang sudah anda lakukan"


Kamis, 18 Juli 2013

Jenis - Jenis Sapi Potong di Indonesia

Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah :
1. Sapi Bali
Cirinya berwarna merah bata (pedet dan betina dewasa) sedangkan jantan yang sudah dewasa kelamin akan berubah warna menjadi hitam dengan warna putih pada kaki dari lutut ke bawah dan pada pantat, punggungnya bergaris warna hitam (garis belut). Keunggulan sapi ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang baru. Lihat juga posting Sapi Bali

2. Sapi Ongole
Cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah.

3. Sapi Brahman
Cirinya berwarna coklat hingga coklat tua, dengan warna putih pada bagian kepala. Daya pertumbuhannya cepat, sehingga menjadi primadona sapi potong di Indonesia.

4. Sapi Madura
Sapi madura tidak jauh berbeda dengan sa[i bali hanya saja pada bagian lutut kebawah dan pantat tidak berwarna putih, ukurannya sedikit lebih kecil daripada sapi bali. selain itu juga berpunuk, berwarna kuning hingga merah bata, terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor dan kaki bawah. Jenis sapi ini mempunyai daya pertambahan berat badan rendah.

5. Sapi Limousin
Mempunyai ciri berwarna hitam bervariasi dengan warna merah bata dan putih, terdapat warna putih pada moncong kepalanya, tubuh berukuran besar dan mempunyai tingkat produksi yang baik

6. Sapi Simmental
merupakan tipe sapi perah dan pedaging, warna bulu coklat kemerahan (merah bata), dibagian muka dan lutut kebawah serta ujung ekor ber warna putih.

Berdasarkan riset, sapi potong di indonesia yang biasa diternakkan adalah peranakan ongole dan simmental. Peranakan ongole (sapi PO) dipilih karena daya adaptasi tinggi, tahan terhadap caplak, namun produksi daging tidak sebegitu tinggi daripada simmental. Sapi ini sebenarnya tipe pekerja, namun di indonesia memang sapi inilah pilihan yang banyak. Sedangkan simmental digunakan karena dagingnya yang lebih tinggi (biasanya sih 600-800 kg). Kelemahannya, karena merupakan sapi luar yang disilangkan dengan sapi lokal, adaptasi memang tidak sebagus seperti sapi lokal lainnya. Juga masalah pakan harus diperhatikan.

Selasa, 16 Juli 2013

Membuat Jerami Fermentasi


Sebelum jerami padi sebagai limbah pertanian di manfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia (misalnya sapi) sebaiknya jerami tersebut di olah terlebih dahulu untuk meningkatkan kualitasnnya, mengingat kandungan serat kasar dan ikatan lignin yang cukup tinggi. Pengolahan secara kimiawi dengan memanfaatkan urea  dapat dilihat di Amoniasi Jerami.

Berikut langkah – langkah penglolahan jerami secara biologi yaitu dengan memanfaatkan probiotik sebagai starter fermentasi:
·       Persiapkan bahan dan alat-alat : probiotik, urea, ember plastik, timbangan, masker penutup mulut dan hidung
·       Membuat campuran urea dan probiotik sesuai kebutuhan jerami yang akan difermentasi (misal : BIOFAD 1-1,5 kg + UREA 2-4 kg untuk 1 ton jerami )
·      Membuat hamparan dengan ketebalan ± 25 cm dari jerami berkadar air ± 50% (dipanen musim kemarau atau jerami padi musim penghujan yang telah dijemur sehari) atau bisa juga menggunakan jerami kering kemudian dikocor dengan air secukupnya. Selanjutnya hamparan jerami dipadatkan dengan cara menginjak-injak lalu ditaburi secara merata  dengan
campuran urea.-probiotik.
·    Membuat hamparan jerami yang kedua di atas hamparan pertama dengan ketebalan sama ± 25 cm, lalu dipadatkan dengan cara menginjak-injak, kemudian ditaburi dengan campuran urea-probiotik secara merata.
·  Demikian seterusnya, setelah semua jerami dihamparkan dan dipadatkan selanjutnya dilakukan penutupan tumpukan jerami dengan menggunakan terpal plastik.
·      Selanjutnya bersihkan semua peralatan yang telah selesai digunakan dan disimpan pada tempatnya.

Jerami yang telah diolah setelah 3 minggu (21 hari) dapat dibuka dan dibongkar/diaduk-aduk, lalu diangin-anginkan. Jerami olahan telah siap digunakan sebagai pakan berkualitas untuk ternak sapi, atau disimpat digudang sebagai cadangan pakan.


Selasa, 18 Juni 2013

Sapi Bali

Mungkin sebagian petani ternak di indonesia jika mendengar kata sapi bali berasumsi sapi yang kecil, dan berkualitas kurang baik, asumsi ini yang perlu diluruskan bahwa sapi bali berkualitas jelek tidaklah benar. Justru sapi bali adalah kekayaan indonesia yang patut kita banggakan dan lindungi. Walaupun postur tubuh sapi bali tidak sebesar sapi sapi dari eropa bukan berarti kualitas sapi bali kalah dari sapi eropa. Mari kita lihat dan kenali sapi bali sebagai sapi asli indonesia dengan segala kelebihannya.

Sapi Bali (Bos Sondaicus) telah mengalami proses domestikasi banteng yang terjadi sebelum 3.500 SM di wilayah pulau jawa atau bali dan lombok, hal ini diperkuat bahwa sampai sekarang masih dijupai banteng yang hidup liar di beberapa lokasi di jawa seperti di ujung kulon. Pulau bali merupakan pusat gen sapi Bali. Sapi Bali dikenal juga dengan Balinesse Cow kadang kadang disebut juga Bibos javanicus

Ciri - ciri sapi bali :
  • Warna bulunya pada badannya akan berubah sesuai usia dan jenis kelaminnya, sehingga termasuk hewan dimoprhism-sex. Pada saat masih “pedet”, bulu badannya berwarna sawo matang sampai kemerahan, setelah dewasa Sapi Bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi Bali betina. Warna bulu sapi Bali jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat tua atau hitam setelah sapi itu mencapai dewasa kelamin sejak umur 1,5 tahun dan menjadi hitam mulus pada umur 3 tahun. Warna hitam dapat berubah menjadi coklat tua atau merah bata apabila sapi itu dikebiri, yang disebabkan pengaruh hormon testosterone
  • Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Warna bulu putih juga dijumpai pada bibir atas/bawah, ujung ekor dan tepi daun telinga. Kadang-kadang bulu putih terdapat di antara bulu yang coklat (merupakan bintik-bintik putih) yang merupakan kekecualian atau penyimpangan ditemukan sekitar kurang dari 1% . Bulu sapi Bali dapat dikatakan bagus (halus) pendek-pendek dan mengkilap.
  • Ukuran badan berukuran sedang dan bentuk badan memanjang.
  • Kepala agak pendek dengan dahi datar.
  • Badan padat dengan dada yang dalam.
  • Tidak berpunuk dan seolah tidak bergelambir
  • Kakinya ramping, agak pendek menyerupai kaki kerbau.
  • Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.
  • Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam
  • Tanduk pada sapi jantan tumbuh agak ke bagian luar kepala, sebaliknya untuk jenis sapi betina tumbuh ke bagian dalam.
Berikut gambar sapi bali jantan dewasa



Berikut gambar sapi bali betina dewasa



Seperti kita tahu bahwa ukuran sapi bali tidak sebesar sapi dari eropa, akan tetapi banyak keunggaulan yang dimiliki sapi bali antara lain:
  1. Tahan terhadap panas. Sapi bali memiliki heat tolerance yang paling baik dibandingkan sapi dari eropa maupun sapi tropis yang lain. Hal ini tentunya baik untuk dipelihara/dikembangkan di Indonesia yang beriklim tropis, dimana suhu cukup tinggi.
  2. Kemampuan adaptasi dengan pakan yang berkualitas rendah sehingga sapi bali cocok dibudidayakan di daerah dengan lahan kritis sekalipun. atau didaerah dengan curah hujan yang rendah dimana sulit mendapatkan pakan dengan kualitas yang baik.
  3. Fertilitas/ kesuburan yang tinggi, dibandingkan dengan sapi eropa dan sapi tropis lain seperti PO, fertilitas sapi bali lebih baik yaitu diatas 80%, sedangkan sapi eropa sekitar 50% s.d 70%, dan sapi Po sekitar 35% s.d 60%, artinya setiap terjadi perkawinan kemungkinan terjadi kebuntingan sekitar 80%
  4. Jarang terjadi kasus distocia atau kesulitan melahirkan.
  5. Prosentase karkas tinggi yaitu dapat mencapai 56%, hanya sedikit dibawah sapi eropa yang dapat mencapi 58%
  6. Kandungan lemak karkas rendah, seperti kita tahu bahwa yang dicari adalah daging bukan lemak, jadi jika perlemakannya rendah akan sangat menguntungkan.


Akan tetapi sapi bali juga memiliki kelemahan antara lain:
  1. Dapat terserang penyakit jembrana (sapi bali yang ada di Bali) yang menular dengan perantara lalat, akan tetapi untuk sapi bali yang ada di pulau timor (sapi timor) lebih tahan terhadap penyakit ini.
  2. Rentan terhadap Malignant Catarrhal Fever, jika berdekatan dengan Domba, karena domba menjadi perantara penyakit yang disebabkan oleh virus ini
Dari uraian diatas jelaslah bahwa sapi bali adalah sapi unggul yang cocok untuk dibubdidayakan di Indoneia dan kelemahan yang ada dapat diatasi dengan manajemen pemeliharaan yang baik.


Rabu, 12 Juni 2013

Jerami Sebagai Pakan Kambing

Mungkin terdengar aneh ketika kita mendengar kambing di beri pakan jerami, pada umumnya jerami padi banyak diberikan pada sapi. Pada dasarnya ternak kambing memiliki saluran pencernaan yang sama dengan sapi keduanya sama sama ternak ruminansia (lihat Mengapa Sapi Tidak Makan Sate??!). Kesulitan memerikan jerami pada ternak kambing karena jerami memiliki kandungan serat kasar yang cukup tinggi, sehingga kambing cenderung memilih pakan yang mempunyai kandungan serat kasar lebih rendah dan berkualitas baik.
Kesulitan tersebut hanyalah masalah kebiasaan saja, dimana kambing tidak terbiasa dengan jerami padi sebagai makanan utama. Untuk dapat membiasakan kambing makan jerami dapat dilakukan dengan cara sederhana. Pada awalnya  ternak kambing harus dipuasakan terlebih dahulu dari makanan lain selama seminggu, artinya kambing hanya diberi pakan jerami saja dan tentunya air minum tidak boleh kurang.  Pada saat pemberian jerami dapat diperciki air garam atau dengan penambahan molases, selain menambah nutrusi bagi ternak molase juga memiliki aroma yang disukai ternak. Setelah kambing mulai terbiasa dengan jerami padi baru ditambah dengan pakan lain yang memiliki kualitas lebih baik agar kebutuhan nutrisinya tercukupi. Seperti kita ketahui bahwa kualitas jerami sebagai pakan ternak rendah sehingga jika ternak hanya diberi pakan jerami padi saja kebutuhan nutrisinya tidak akan terpenuhi.
Walaupun kualitas jerami sebagai pakan rendah akan tetapi ketersediaannya cukup banyak sehingga dapat dijadikan pakan alternatif yang murah untuk ternak ruminansia seperti kambing dan sapi. Rendahnya kualitas jerami dapat kita tingkatkan baik dengan amoniasi maupun fermentasi, sehingga jerami lebih mudah dicerna oleh ternak.
Pembiasaan pemberian pakan seperti diatas tidak hanya untuk jerami padi, akan tetapi dapat juga untuk membiasakan ternak dengan bahan pakan lain.
Selamat Mencoba.....

Selasa, 14 Mei 2013

Menentukan Waktu Perkawinan Sapi


Jarak kelahiran sapi di peternak indonesia rata – rata 18 bulan bahkan sampai 2 tahun, jarak yang cukup lama ini mengakibatkan peningkatan populasi sapi cenderung lambat. Salah satu penyebab lamanya interval kelahiran ini karena kurang terampilnya peternak menentukan waktu perkawinan karena ketidak tahuan bahwa sapinya birahi, atau terlambat mengawinkan setelah birahi berakhir, atau malah terlalu dini. Untuk itulah pentinganya mengetahui siklus estrerus dan ciri – cirinya.

SIKLUS BIRAHI
Pada kebanyakan vertebrata (termasuk sapi) dengan pengecualian primata, kemauan menerima hewan-hewan jantan terbatas selama masa yang disebut estrus atau berahi. Selama estrus, hewan-hewan betina secara fisiologis dan psikologis dipersiapkan untuk menerima hewan-hewan jantan, dan perubahan-perubahan struktural terjadi di dalam organ assesori seks betina. Hewan-hewan monoestrus menyelesaikan satu siklus estrus setiap tahun, sedangkan hewan-hewan poliestrus menyelesaikan dua atau lebih siklus estrus setiap tahun apabila tidak diganggu dengan kehamilan. Siklus estrus adalah siklus reproduksi yang berlangsung pada hewan non primata betina dewasa seksual yang tidak hamil. Pada sapi siklus estrus terdiri atas beberapa fase utama adalah fase diestrus, fase proestrus, fase estrus, dan fase metestrus. 1.Fase diestrus, adalah fase yang ditandai dengan adanya sel-sel epitel berinti dalam jumlah yang sangat sedikit dan leukosit dalam jumlah yang sangat banyak. Lamanya fase ini kurang lebih 55 jam (Billet dan Wild, 1975) 2.Fase proestrus, adalah fase yang ditandai dengan adanya sel-sel epitel berinti berbentuk bulat, leukosit tidak ada atau sangat sedikit. Lamanya fase ini kurang lebih 18 jam (Billet dan Wild, 1975) 3.Fase estrus, adalah fase yang ditandai dengan adanya sel-sel epitel menanduk yang sangat banyak, dan beberapa sel epitel dengan inti yang berdegenerasi. Lamanya fase ini kurang lebih 25 jam (Billet dan Wild, 1975). 4.Fase metestrus adalah fase yang ditandai dengan adanya sel-sel epitel menanduk dan leukosit yang banyak. Lamanya fase ini kurang lebih 8 jam (Billet dan Wild, 1975). Pada saat sapi berada pada fase diestrus, maka pada saat itu sapi-sapi tersebut tidak aktif secara seksual. Semua hewan mamalia betina kecuali primata tingkat tinggi, kopulasi hanya dimungkinkan berlangsung pada periode tertentu di dalam setiap siklus estrusnya. Periode dimana secara psikologis dan fisiologis sapi betina bersedia menerima pejantan dinamakan berahi atau estrus. Ketika berahi, seekor betina berada pada status psikologis yang berbeda secara jelas dibandingkan dengan sisa periode di luar berahi di dalam siklus. Pejantan biasanya tidak menunjukkan perhatian seksual pada betina di luar masa berahi, dan bila pejantan akan mengawini betina, maka sapi betina akan menolak. Banyak hewan ketika berahi menjadi sangat aktif. Babi dan sapi pada saat berahi berjalan empat atau lima kali lebih banyak dibandingkan dengan sisa masa siklusnya. Aktivitas yang tinggi ini disebabkan oleh esterogen. Tikus yang berada di dalam kandang berlari secara spontan jauh lebih banyak ketika berahi dibandingkan selama diestrus (Nalbandov, 1990). Sikluis estrus berhubungan erat dengan perubahan organ-organ reproduksi yang berlangsung pada hewan betina. Banyak hewan ketika berahi menjadi sangat aktif. Babi dan sapi pada saat berahi berjalan empat atau lima kali lebih banyak dibandingkan dengan sisa masa siklusnya. Aktivitas yang tinggi ini disebabkan oleh esterogen. Tikus yang berada di dalam kandang berlari secara spontan jauh lebih banyak ketika berahi dibandingkan selama diestrus (Nalbandov, 1990). Sikluis estrus berhubungan erat dengan perubahan organ-organ reproduksi yang berlangsung pada hewan betina.
DETEKSI BIRAHI
Seekor sapi betina akan menunjukan tanda – tanda birahi jika sudah dewasa kelamin, biasanya pada umur 8 – 11 bulan sapi betina akan menujukan tanda – tanda birahi untuk pertama kalinya. Akan tetapi perkembangan tubuh lebih berpengaruh daripada umur, pada sapi potong biasanya setelah bobot tubuhnya mencapai 45 – 55 %, dari bobot badan dewasa akan menunjukan tandan birahi yang berarti sudah dewasa kelamin. Pada saat birahi ini seekor betina akan mau menerima pejantan untuk melakukan perkawinan. Deteksi birahi sangat penting dilakukan agar produksi pedet dapat optimal, yaitu jarak kelahiran anak 12 bulan. Deteksi birahi sebaiknya dilakukan tiga kali sehari, yaitu pada pagi hari ketika sapi masih santai, pada siang hari ketika sapi beristirahat setelah makan, dan pada sore hari. Disesuaikan waktu siklus birahinya. Pada saat estrus seekor sapi akan menunjukan perubahan baik tingkah laku maupun fisik (terutama pada organ reproduksinya. Pada fase proestrus sapi mulai sedikit gelisah dan melenguh, gejala birahi mulai nampak namun masih menolak pejantan untuk kopulasi, servik mulai rileks, dan lumen servik mulai memproduksi lendir. Pada fase estrus sapi gelisah, nafsu makan berkurang bahkan hilang, mau menerima pejantan untuk kopulasi, keluar lendir bening yang banyak pada serviks dan mengalir melalui vagina, vagina dan vulva bengkak, kemerahan dan hangat, menaiki temannya dan bila ada pejantan menaiki akan diam saja. Pada fase metestrus gejala dari luar tidak tampak nyata, masih ada sisa – sisa gejala estrus, menolak pejantan, serviks menutup dan sekresi serviks mengental. Pada fase diestrus tidak ada aktivitas alat kelamin dan sapi menjadi tenang.Berikut tanda - tanda sapi birahi Saling menaiki bila ditekan pada lumbai terlihat rileks Keluar lendir bening/ transparan Selaput mukosa vagina merah Vulva bengkak
MENGAWINKAN SAPI
Setelah deteksi birahi dilakukan dan seekor sapi terdeteksi mulai birahi langkah selanjutnya adalah menentukan waktu yang tepat untuk mengawinkan sapi tersebut. Perkawinan dilakukan sebaikya dilakukan 12 jam setelah seekor betina terdeteksi birahi, diharapkan pada saat itu ovulasi sudah terjadi sehingga pertemuan sel jantan dan sel telur dapat terjadi. Bila perkawinan dilakukan terlalu dini dikhawatirkan ovulasi terjadi ketika sel sperma sudah mati, atau sebaliknya jika terlambat mengawinkan dikhawatirkan sel telur sudah mati. Jika pada padi hari seekor pejantan tereteksi birahi sebaiknya pada sore hari itu juga sapi dikawinkan, jika menunggu sampai esok hari maka sudah terlambat. Jika seekor sapi terdeteksi birah pada sor hari maka esok paginya sebelum jam 12 harus dikawinkan jika menunggu sampe sore harinya maka akan terlambat. Perkawinan dapat dilakukan secara alami maupun dengan inseminasi buatan. Secara alami perkawinan menggunakan pejantan langsung, dengan cara ini secara tidak langsung seekor pejantan akan ikut mendeteksi apakah betina tersebut birahi, karena betina yang birahi akan mengeluarkan aroma khas yang akan menarik pejantan untuk melakukan perkawinan. Deteksi birahi oleh pejantan ini dapat dimafanfaat untuk mendeteksi kejadian birahi tenang pada sapi. Pada inseminasi buatan perkawinan dilakukan menggunakan sperma yang diproduksi balai inseminasi buatan. Kenunggulan inseminasi buatan adalah pejantan yang digunakan berkualitas baik dan sudah teruji.
Kritik, saran dan komentar anda sangat saya butuhkan demi perbaikan dimasa mendatang.

Minggu, 28 April 2013

membuat spoiler


Spoiler adalah sebuah fitur dalam blog   fungsi utamanya adalah menyembunyikan teks, kode, kalimat atau gambar. Fungsi nya mirip dengan text area yaitu menghemat halaman posting agar tidak terlalu memanjang ke bawah. Saya yakin sobat sudah sering melihat di forum-forum bentuk sebuah spoiler, yaitu jika kita mengklik misalnya "show" atau "hide" atau "close" maka kita bisa melihat gambar / tulisan yang tersembunyi namun bisa dimunculkan.

Spoiler sering kali  dipasang pada sebuah halaman posting, namun ada juga yang memasukkan nya ke dalam sidebar atau footer untuk menyembunyikan widget tertentu. Pada tutorial ini kita akan ikuti cara membuat spoiler dengan isi tulisan dan spoiler dengan isi gambar di posting blogspot.

A. Membuat spoiler dengan isi teks



Klik Show Untuk Membuka Spoiler

Berikut kode spoiler di atas:

<div style="margin-bottom: 2px;">Klik Show Untuk Membuka Spoiler
<div style="margin-top: 5px; text-align: center;"><input value="Show" style="margin-top: 5px; width: 60px; font-size: 10px;" onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" type="button"> </div>
<div style="border: 1px inset ; margin: 0px; padding: 6px;"><div style="display: none;">Memasang spoiler di blog sangat mudah  Inilah kode untuk membuat spoiler dengan teks </div></div></div>

Keterangan;
  • Klik show untuk membuka bla bla bla bisa sobat ganti termasuk Show
  • Sedangkan kode berwarna biru adalah isi dari spoiler dengan teks. 

 B. Memasang spoiler dengan isi image atau gambar


    Spoiler : 
    Kode spoiler untuk isi gambar di atas;

    <div style="margin: 5px 20px 20px;"><div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;">
    <b>Spoiler</b> : <input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Close'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Open'; }" style="font-size: 11px; margin: 0px; padding: 0px; width: 55px;" type="button" value="Open" /></div>
    <div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 6px; text-align: left;">
    <div style="display: none;">
    <img src="http://julak-project.googlecode.com/files/photos.png" border="0" alt="Post spoiler">
    </div>
    </div>
    </div> 
    Perhatikan cara memasang kode url gambar dengan teks warna biru. Ganti
    http://julak-project.googlecode.com/files/photos.png dengan alamat gambar sobat sendiri yang sudah dihost misalnya di link berikut google code.
    Bagaimana cara memasangnya di posting blog? Saat menulis artikel masuk ke menu  HTMLbukan compose (lihat kiri atas) kemudian masukkan kode-kode diatas.

    Maaf gan hanya repost,. sekedar berbagi pengetahuan dan trik.

    Sabtu, 27 April 2013

    Mengapa Sapi Tidak Makan Sate???!!


    Mengapa sapi kambing kerbau bisa hidup hanya dengan makan rumput saja? sedangkan manusia kebutuhan nutrisinya tidak akan tercukupi jika hanya mengkonsumsi sayur sayuran yang? Jawabnya sederhana saja yaitu karena pencernaan sapi jauh berbeda dengan manusia. Berikut penjelasan singkat tentang sistem pencernaan pada ruminansia.
    Lambung ruminansia terdiri atas 4 bagian, yaitu rumen (perut besar), retikulum(perut jala), omasum (perut kitab), dan abomasum (perut masam), dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan alamiahnya. Lambung sapi sangat besar, diperkirakan sekitar 3/4 dari isi rongga perut. Lambung mempunyai peranan penting untuk menyimpan makanan sementara yang akan dimamah kembali (kedua kali). Selain itu, pada lambung juga terjadi proses pembusukan dan peragian (fermentasi).

    Nah, saat mereka makan rumput, maka makanan dari kerongkongan akan masuk rumen yang berfungsi sebagai gudang sementara bagi makanan yang tertelan. Di rumen terjadi pencernaan protein, polisakarida, dan fermentasi selulosa oleh enzimselulase yang dihasilkan oleh bakteri dan protozoa tertentu. Dari rumen, makanan akan diteruskan ke  retikulum dan di tempat ini makanan akan dibentuk menjadi gumpalan-gumpalan yang masih kasar disebut bolus.
    Sebenarnya ada banyak bakteri yang melakukan fermentasi selulosa. Total ada sekitar 32 strain bakteri yang melakukan fermentasi. Diantara sekian banyak itu yang terkenal adalah: Lachnospira multiparous, Butyrivbrio fibrisolvens, Bacteroides ruminicola, dan semua bersifat anaerob.
    Saat para ruminansia ini sudah santai di kandangnya, bolus akan dimuntahkan kembali ke mulut untuk dimamah kedua kali. Dari mulut, makanan akan ditelan kembali untuk diteruskan ke omasum. Pada omasum terdapat kelenjar yang memproduksi enzim yang akan bercampur dengan bolus. Akhirnya bolus akan diteruskan ke abomasum, yaitu perut yang sebenarnya, dan di tempat ini masih terjadi proses pencernaan bolus secara kimiawi oleh enzim selulase yang akan menghancurkan selulosa. Mikroba penghasil selulase tidak tahan hidup di abomasum karena pH yang sangat rendah (asam), akibatnya bakteri ini akan mati, namun para mikroba ini malah dapat dicerna sebagai sumber protein bagi hewan ruminansia. Dengan demikian, rumimansia tidak memerlukan asam amino esensial seperti pada manusia.
    Hewan seperti kuda, kelinci, dan marmut tidak mempunyai struktur lambung seperti pada sapi untuk fermentasi selulosa. Proses fermentasi dilakukan oleh bakteri padasekum (semacam appendix yang membesar) yang banyak mengandung bakteri. Proses fermentasi pada sekum tidak seefektif fermentasi yang terjadi di lambung sapi. Akibatnya kotoran kuda, kelinci, dan marmut lebih kasar karena proses pencernaan selulosa hanya terjadi satu kali, yakni pada sekum. Sedangkan pada sapi proses pencernaan terjadi dua kali, yakni pada lambung dan sekum yang kedua-duanya dilakukan oleh para mikroba tadi.
    Bagi manusia ini tampak menjijikkan, tetapi pada kelinci dan marmut, kotoran yang telah keluar tubuh seringkali dimakan kembali. Karena kotoran yang belum tercerna tadi masih mengandung banyak zat makanan, yang masih bisa dicerna lagi oleh kelinci.
    Usus hewan herbivora lebih besar dibandingkan dengan usus karnivora. Bahkan usus halus herbivora bisa mencapai 40 meter. Hal itu disebabkan karena makanan herbivora jumlahnya lebih banyak dan sulit dicerna karena kandungan selulosa. Sedangkan pada karnivora jumlah makanannya lebih sedikit sehingga pencernaan berlangsung dengan cepat.
    O ya, enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri pada saluran pencernaan ruminansia ini tidak hanya berfungsi untuk merombak selulosa, tetapi juga dapat menghasilkan biogas yang berupa gas CH4 (metana) yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif bahan bakar. Jadi bisa digunakan sebagai pengganti kompor gas untuk memasak. Kok bisa? Iya, karena tidak tertutup kemungkinan bakteri yang ada di sekum atau usus akan keluar dari tubuh hewan tersebut bersama faeces (tinja). Nah, bahan organik yang terdapat dalam faeces tadi akan diuraikan dan dapat menghasilkan biogas tadi.

    Sabtu, 20 April 2013

    Membuat Silase

    Makanan utama ternak ruminansia seperti sapi dan kambing secara alami adalah hijauan. Akan tetapi kendala yang sering muncul di masyarkat adalah ketrsediaan hijauan yang tidak kontinyu (terus - menerus) sepanjang tahun dalam jumlah yang cukup. Pada musim hujan hijauan melimpah ruah akan tetapi pada musim kemarau jumlahnya sangat sedikit, dan bila adapun kualitasnya cenderung kurang baik (kandungan serat kasarnya tinggi). Untuk mengatasi hal tersebut bisa dilakukan pengawetan hijauan pakan ternak antara lain dengan membuat silase dan hay.

    Silase adalah pakan yang berbahan baku hijauan, hasil samping pertanian atau biji - bijian berkadar air tertentu yang diawetkan dengan cara disimpan dalam tempat yang kedap udara selama kurang lebih 3 minggu. Tempat penyimpanan silase tersebut disebut "SILO", silo dapat terbuat dari drum, kantong plastik, ataupu bak beton dapat juga dengan membuatkolam beton dalam tanah. Prinsipnya silo merupakan tempat atau wadah yang kedap udara sehingga memungkinkan terjadinya fermentasi an aerob.

    Bahan silase dapat berupa hijauan atau bagian lain dari tumbuhan yang disukai ternak ruminansia seperti berbagai jenis rumput, legumeinosa, biji - bijian, tongkol jagung, pucuk tebu dll. Kadar air bahan untuk membuat silase adalah sekitar 65 - 75%, kadar air yang terlalu tinggi akan menyebabkan silase busuk, sedangkan kadar air yang terlalu rendah akan menyebabkan tumbuhnya jamur.

    Tujuan utama pembuatan silase adalah mengawetkan hijauan sehingga pada musim kemarau dimana jumlah hijauan segar sangat kurang bisa dimanfaatkan sebagai tambahan. Dengan demikian diharapakan pada musim kemarau tidak lagi kesulitan menyediakan pakan bagi ternak.

    Setelah hijauan dipotong proses respirasi akan tetap terjadi sampai sel tanaman mati, respirasi ini membutuhkan oksigen, dan kita ketahui pula bahwa respirasi adala proses pembongkaran karbohidrat menjadi energi. Jadi bila proses respirasi hijauan yang baru dipotong dibiarkan terus maka kandungan karbihidrat dalam hijauan tersebut akan menurun. Untuk itulah kita perlu mengentikan proses respirasi tersebut.

    Untuk menghentikan proses respirasi maka dibuatlah kondisi an aerob (bebas oksigen) dengan cara memampatkan bahan hijauan dalam silo sepadat mungkin dan harus ditutup rapat. Hijauan harus dipadatkan sepadat mungkin agar oksigen yang terjebak diantara tumpukan hijauan sesedikit mungkin. Setelah hijauan dimasukan silo dan ditutup rapat masih terjadi proses respirasi sampai oksigen yang terjebak di dalamnya habis.

    Setelah respirasi terhenti maka proses yang terjadi selanjutnya adalah fermentasi, proses ini menyebabkan turunya pH bahan baku silase hingga tidak ada lagi organisme yang tumbuh. Inilah yang menyebabkan hijauan menjadi awet.

    Silase yang baik umumnya dari bahan baku yang baik pula yaitu dari hiajauan yang dipotong tepat waktu yaitu tepat sebelum berbunga. Silase yang baik beraroma dan berasa asam berwarna hijau kekuningan, bila dipegang terasa empuk dan lembut tetapi tidak basah dan berlendir. Bila terlihan berjamur, warna hitam, berair dan beraroma tidak sedap (busuk) berarti kualitasnya rendah.

    Apabila ternak belum terbiasa mengkonsumsi silase maka pemberiannya sedikit demi sedikit dicampur dengan hijauan yang biasa dimakan.



    Untuk menghasilkan Silase Tanpa Bahan Pengawet dibutuhkan :
    Bahan yang terdiri dari :  Rumput Alam Segar 60% dan Daun Gamal 40%, sedangkan alat yang dibutuhkan adalah :
    -   Parang untuk memotong rumput dan gamal
    -   Drum bekas aspal untuk menyimpan campuran rumput dan gamal
    -   Plstik bening untuk menutup drum
    -   Ban dalam bekas sebagai pengikat plastik
    -   Timbangan untuk menimbang rumput dan gamal
    Langkah-langkah praktis dalam pembuatan Silase Tanpa Bahan Pengawet adalah :
    1.      Potong rumput alam, panjang  3 - 5 cm
    2.      Gamal di ambil daunnya
    3.      Jemur atau angin-anginkan selama 15 – 20 menit
    4.      Timbang rumput dan daun gamal dengan perbandingan 60 : 40 %
    5.      Campurlah rumput yang telah dipotong dengan daun gamal secara baik dan rata
    6.      Setelah dicampur masukkan dalam drum sedikit-demi sedikit sambil diinjak sampai    padat betul sehingga tidak ada udara dalam drum
    7.      Segera tutup drum dengan plastik bening dan diikat yang kuat dengan ban dalam         bekas sehingga drum tidak terbuka atau masuk udara
    8.      Simpan ditempat yang aman dan tidak terkena sinar matahari langsung
    9.      Rata-rata berat silase berkisar antara 65 – 85 kg/drum

                                     Gambar 1. Pastikan tidak ada udara dapat masuk kedalam drum




    Gambar 2. Silase yang baik berwarna hijau kekuningan
                                            

    Pemanfaatan Limbah Pertanian Sebagai Pakan Ternak

    Pakan merupakan salah satu faktor terpenting dalam semua usaha peternakan, baik sapi, kambing maupun ternaka unggas. Produktivitas/performans ternak 70% dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan 30% oleh faktor genetik. Ini berart walaupun secara genetik ternak memiliki potensi yang bagus akan ttapi lingkungan tidak mendukung maka performans nya tidak maksimal. Dari faktor lingkungan ini pakan paling berpengaruh yaitu mencapai 60%, jadi tidaklah heran jika pakan menjadi hal yang paling diperhatikan dalam pemeliharaan ternak.

    Karena besarnya pengaruh pakan terhadap produksi maka biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan pakanpun tidak bisa dianggap ringan, bahkan biaya pakan ini mencapai 60 - 80% dari total biaya produksi. Oleh karena itu jika usaha ternak kita dapat engemat biaya pakan akan sangat besar pengaruhnya terhadap produktivitas usaha.

    Pada usaha ternak sapi dan ternak ruminansia lainnya dimana ketersediaan pakan berupa hijauan mutlak dibutuhkan, dengan adanya perubahan alih fungsi lahan dan perubahan iklim akan membatasi ketersediaan bahan pakan bagi ternak tersebut. Selain itu sering kali berebut lahan hijauan pakan ternak dengan lahan pertanian tanaman pangan atau tanaman pertanian lainnya. 

    Untuk itu integrasi dengan usaha pertanian meruppakan alternatif untuk mengembangkan usaha peternakan yang berkesinambungan. Optimalisasi pemanfaatan limbah pertanian dan agroindustri dapat memperbaiki ketersediaan pakan bagi ternak ruminansia. Akan tetapi biasanya limbah pertanian memiliki kualitas yang kurang baik untuk pakan ternak, maka perlu adanya pengolahan terlebih dahulu untuk menngkatkan mutu dari bahan pakan limbah pertanian misalnya dengan amoniasi atau dengan fermentasi.

    Secara bahan pakan asal pertanian dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu bahan limbah pertanian dan bahan limbah agroindustri. Bahan limbah pertanian misalnya jerami padi, jerami jagung, jerami kacang tanah, jerami kedelai, tumpi jagung, tonggkol jagung, kulit kacang tanah, pelepah sawit dll, sedangkan limbah agro industri misalnya dedap padi, ampas tahu, ampas pabrik roti, bungkil kelapa, kedelai afkir dll.

    Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak akan mengurangi ketergantungan terhadap pakan hijauan dari hasil budidaya yang kita ketahui bahwa lahan untuk budidaya pakan ternak terbatas jumlahnya. Selain itu juga dapat menekan biaya pakan karena limbah pertanian (khususnya jerami) harganya murah. Dari  sudut pandang pertanian pemanfaatan limbah ini akan meningkatkan nilai tambah, karena limbah yang biasanya hanya dibakar dapat memiliki nilai ekonomi.

                       

                                   Gambar 1. Jerami padi setelah panen perlu dikeringkan terlebih dahulu sebelum                                        disimpan agar tidah busuk/berjamur



                                      

                                    Gambar 2. Setelah kering jerami dapat disimpan agar terhingdar dari hujan dan sinar
                                                     matahari langsung

    Kamis, 18 April 2013

    Menentukan Lokasi Kandang Sapi Potong

    Pemilihan lokasi ditujukan untuk menunjang keberhasilan usaha sapi potong, baik dari segi teknis maupun ekonomis. Dalam mememilih atau menentukan lokasi, perlu dipertimbangkan beberapa hal, antara lain sumber air, kondisi lahan dan lingkungan sehat.

     1.Dekat Sumber Air 
           Air merupakan kebutuhan yang mutlak, baik untuk keperluan hidup ternak seperti air minum, kebersihan kandang dan kebrsihan lingkungan. Sumber air berasal dari sumur maupun mata air.

    2.Kondisi Lahan 
         Lahan untuk kandang lebih tinggi dari sekelililngnya dan jauh dari rumah dan sumur untuk air minum masyarakat. Hal ini agar kandang dan lingkungannya tetap kering sehingga tidak lembab karena aliran air (drainase) berjalan lancar. Bila kandang dan lingkungnya, lembab, berkembang bibit penyakit dan menyebabkan ternak sakit 

    3. Lingkungan Sehat 
          Untuk memperoleh lingkungan kandang yang sehat, kandang harus mendapat sinar matahari pagi dan sore merata dan sirkulasi udara yang baik. Sinar matahari berfungsi sebagai pembasmi bibit penyakit (desinfektan) dan mempercepat pengeringan kandang dan lingkungan kandang. Selain itu, kandang memperoleh cukup hembusan angin, namun tidak besar. Apabila tiupan angin cukup besar, lingkungan kandang ditanami pepohonan untuk mengurangi hembusan aingin yang kencang. Bila sirkulasi udara lancar, lingkungan kandang sehat dan segar. 

    Berikut langkah dalam memilih lokasi kandang sapi potong: 
    • Pilih lokasi yang mudah untuk transportasi pengadaan pakan dan pemasaran. 
    • Pilih lokasi cukup mendapat sinar matahari pagi dan sore hari secara merata. 
    • Pilih lokasi terlindung dari hembusan angin langsung, 
    • Pilih lokasi yang memiliki sumber air (sumur, mata air) 
    • Pilih lokasi mempunyai areal yang ada dapat diperluas.

    Setelah lokasi kandang ditentukan maka bagaimana meletakan kandang itu? 
    • Ukur jarak kandang minimal 15 m dari sumber air untuk mimum dan 10 m dari rumah. 
    • Buat lahan yang akan digunakan untuk menempatkan kandang lebih tinggi dari lahan sekitarnya 
    • Arahkan kandang menghadap ke arah timur. 

    Bagaimana bentuk kandang sapi,.. tunggu posting selanjutnya.........

    Cara Mudah Mendeteksi Sapi Bunting

    Usaha peternakan sapi di Indonesia didominasi oleh usaha skala rumah tangga dimana kepemilikan ternak hanya 2 sampai lima ekor. Pada kondis...