Selasa, 19 Maret 2013

Amoniasi Jerami

Amoniasi Jerami

            Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas jerami sabagai pakan ternak ruminansia adalah dengan perlakuan kimiawi, misalkan dengan menambahkan NaOH ataupun urea. Dalam pelaksanaannya penambahan NaOH jarang dilakukan karena sifat alkali yang cukup kuat, sehingga harus sangat hati – hati dalam penggunaanya karena dapat melukai pengelolanya. Penambahan urea selain mudah bahan juga baku mudah didapatkan. Penggunaan urea untuk meningkatkan kualitas jerami sebagai pakan ternak ruminansia lebih dikenal dengan istilah amoniasi jerami.


Amoniak akan berperansebagai:
  1. Menghidrolisa ikatan lignin –sellulosa
  2. Menghancurkan lignin sellulosa juga melarutkan sebagian silikat
  3. Memuaikan atau mengembangkan serat sellulosa sehingga memudahkan penetralisi  enzim sellulosa
  4. Berkat adanya fiksasi nitrogen maka kandungan protein kasar akan meningkat.
Yang dimaksud jerami bukan hanya jerami padi tetapi semua limbah pertanian yang sudah berumur tua, seperti jerami jagung, jerami kacang kedelai, jerami kacang tanah dll. Jadi kita tidak hanya terpaku pada jerami padi, tetapi bisa juga membuat amoniasi jerami jagung yang selama ini hanya dibakar begitu saja. Untuk membuat amoniasi dari jerami batang jagung sebaiknya batang jagung di cacah terlebih dahulu agar lebih mudah dalam proses penyimpannanya.
            Berikut ini cara membuat amoniasi jerami:
1.  Cara Basah
  Bahan-bahan :
            15 kg jerami kering udara
            870 gram urea (sekitar 5 – 6% dari jerami yang dipakai)
            5 liter air
  Peralatan :
            2 lembar kantong plastik ukuran 100 x 150 cm yang cukup tebal.
            1 buah ember
            1 timbangan
            1 alat pengaduk
Langkah kerja
  Kantong plastik langsung dilapis dua dengan cara memasukan lembar pertama ke dalam lembar kedua. Maksudnya merangkap plastik ini adalah agar lebih kuat dan menghindarkan bocor.
  Larutkan 870 gram urea ke dalam ember yang berisi 5 liter air dengan cara diaduk sampai benar-benar larut hingga tidak ada lagi butir-butir urea yang terlihat.
  Percikan larutan urea tersebut keatas jerami secara merata hingga air habis.
  Masukan jerami yang telah dipercik larutan urea dalam kamtong plastik yang telah disiapkan, padatkan dengan hati – hati agar kantong plastik tidak sampai sobek.
  Tutup dahulu kantong plastik lapis dalam dengan cara mengikat bagian atasnya, kemudian baru kantong plastik bagian luarnya. Kantong plastik ini dapat disimpan di tempat yang telah disediakan dan cukup aman. Kantong plastik jangan sampai bocor agar gas amoniak yang dihasilkan tidak keluar.
  Setelah satu bulan kantong plastik dapat dibuka, ketika membuka plastik harus hati-hati karena selama proses amoniasi ini terjadi pembentukan gas, sehingga ketika plastik tersebut dibuka gas akan keluar dan dapat menyebabkan pedih di mata. Jerami hasil amoniasi kemudian diambil lalu diangin-anginkan selama dua hari sebelum diberikan kepada ternak.
  Selain menggunakan kantong plastik dapat pula menggunakan drum atau wadah lain yang penting dapat ditutup rapat dan kedap udara.


2.  Cara Kering
  Bahan-bahan :
            100 kg jerami padi kering udara
            3-4 kg urea 
  Peralatan :
            Lembaran plastik dengan ketebalan 0,4 cm
            Timbangan
            Kayu untuk mengemas jerami padi
Cara Kerja
  Jerami yang sudah terpilih dan ditimbang diikat dengan tali yang terbuat dari bambu, setelah itu dikemas supaya mudah dalam penanganannya.
  Taburi urea secara merata pada setiap ikatan/bal jerami.
  Setelah merata bungkus dengan palstik secara rapat agar tidak ada udara yang masuk/an aerob.

  Simpan di tempat yang teduh dan tidak kena hujan/air. Sebaiknya di atas plastik pembungkus ini diberi beban agar ada tekanan ke bawah, sehingga gas amoniak yang terbentuk dimanfaatkan oleh jerami. Lama proses amoniasi selama satu bulan.
  Setelah satu bulan jerami olahan dapat dibuka, hasil yang baik ditandai dengan bau amoniak yang menyengat, oleh karena itu hati-hati ketika membuka karena dapat menyebabkan mata pedih dan sesak nafas.
Setelah bau yang menyegat berkurang pindahkan ke ruang penyimpanan. Simpan di tempat yang beratap dan tidak kena hujan. Perhatikan ventilasi gudang penyimpanan udara harus bebas mengalir

Menyimpan Jerami Amoniasi
  Jerami amoniasi cara basah dengan kantong plastik, drum, maupun silo dalam tanah sebagian besar terutama di bagian bawah sangat lembab bahkan basah. Jerami ini setelah diangin-anginkan selama 2 atau 3 hari masih tetap basah. Jerami lembab ini sebaiknya langsung diberikan kepada ternak dan harus habis dalam jangka waktu satu minggu.
  Pada daerah tertentu terutama dataran tinggi jerami amoniasi yang masih lembab akan menyebabkan tumbuhnya jamur kayu atau jamur putih yang halus pada permukaan jerami amoniasi. Jamurnya sendiri tidak berbahaya untuk ternak, tapi kurang estetik dan bagian permukaan itu agak menurun kualitasnya. Terutama bila jerami tersebut ditumpuk di udara terbuka dan terkena air hujan maka akan terjadi proses pelapukan (dekomposisi).
  Untuk disimpan jangka lama maka jerami amoniasi tersebut harus dijemur dan dikeringkan di panas matahari selama kurang lebih satu minggu hingga kadar air mencapai 20 %. Bila jerami tersebut sudah dijemur dan kering maka dapat disimpan di bawah atap dan tahan 6 bulan sampai satu tahun tanpa adanya penurunan kualitas.

Cara Penyajian Jerami Amoniasi
  Bentuk penyajian
Jerami hasil amoniasi dapat langsung diberikan pada ternak, baik dicincang ataupun diberikan begitu saja.

   Air minum
Pemberian air minum untuk ternak sebaiknya jangan dibatasi, biarkan ternak bebas minum sepuasnya, apalagi yang dibrikan adalah jerami dimana kandungan airnya sedikit.

            Selamat mencoba!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Rabu, 06 Maret 2013

menaksir berat badan sapi

Jual-beli hewan kurban pada praktiknya lebih banyak dilakukan dengan cara ditaksir. Calon konsumen cukup menilik (memeriksa) dengan cara mengamati secara visual performa hewan kurban dan ketika dirasa cocok, transaksi pun jadi.


Untuk mendapatkan hewan kurban ideal yakni gagah, sehat, cukup umur dan memiliki bobot yang diinginkan harus dilakukan melalui pemeriksaan fisik (antemortem) secara detail. Begitu pula untuk memastikan secara akurat berat badan atau umur ternak diperlukan timbangan ternak dan kartu catatan riwayat hidup ternak (recording) mirip akta kelahiran.

Akan tetapi, mengharapkan semua hal di atas pada pedagang hewan kurban di pinggir jalan sesuatu yang hampir mustahil. Timbangan hewan cukup berat dan mahal, biasanya dimiliki perusahaan peternakan besar. Sementara peternak kita belum terbiasa melakukan pencatatan (recording) terhadap ternak miliknya, sehingga umur ternak sulit diketahui.

Namun, kita tak perlu pesimis. Teknik menaksir ternak biasa dilakukan oleh para blantik dan diuji-cobakan para peneliti ternyata memberikan hasil mendekati kondisi hewan sebenarnya. Dengan cara menaksir, kondisi fisik, bobot badan, maupun umur hewan kurban dapat segera diketahui sebagai syarat sah ibadah kurban.

Pada hakikatnya, begitu kita tiba di lokasi penjualan hewan kurban, kita sudah dihadapkan pada proses menaksir, yakni melihat, mengamati, dan memeriksa kondisi fisik hewan kurban secara visual. Agar pemeriksaan lebih objektif, si pemeriksa harus berada sekitar 1-2 meter dari objek. Hewan harus ditempatkan di tempat rata. Bila berada di lokasi lebih tinggi dari si pemeriksa akan berkesan lebih besar. Sebaliknya tampak lebih kecil bila ditempatkan di tanah lebih rendah.

Dengan pengamatan visual saja, hewan kurban sudah bisa dilihat dari segi kesehatan: sehat, sakit atau cacat. Hewan sehat dicirikan oleh bentuk tubuhnya standar (normal), mata jernih, perangai lincah, nafsu makan baik - dicoba dengan memberi hijauan - dan warna kulit cerah. Sebaliknya gejala hewan sakit dapat diamati tampak lendir pada mata, hidung, atau anus; sorot matanya sayu; kurus karena nafsu makan rendah; dan gerakannya lambat. Hal ini perlu diwaspadai, karena meskipun Indonesia dinyatakan bebas penyakit mulut dan kuku (1986) dan sapi gila (2002), namun belum terbebas dari penyakit zoonosis lainnya yaitu antraks. Beberapa daerah masih menjadi endemik penyakit disebabkan bakteri Bachillus Anthracis ini.
Untuk hewan kurban, Rasulullah SAW melarang hewan cacat. Tanduk pecah, kaki pincang atau telinga putus dapat dilihat secara kasatmata. Sementara hewan dengan kondisi buta dapat dicoba dengan mengibaskan telapak tangan di dekat bola matanya, bila tidak berkedip maka dipastikan buta dan tidak sah untuk hewan kurban.

menaksir berat dan umur
Bila dicermati, penampang tubuh sapi dan domba menyerupai bentuk geometris berupa tabung. Untuk mencari volume tabung harus diketahui luas alas dan tinggi. Dalam hal ini, lingkar dada hewan dapat diasumsikan sebagai luas alas dan panjang badan sebagai tinggi. Lingkar dada diperoleh dengan melingkarkan seutas tali di belakang gumba melalui belakang belikat. Sementara panjang badan diukur dari bahu hingga penonjolan tulang duduk. Dengan memperhatikan volume organ kepala, kaki, ekor, dan massa jenis daging atau jeroan bakal diperoleh pendekatan untuk memperoleh berat hewan sebenarnya.

Melalui berbagai percobaan, Schoorl menemukan rumus untuk mengetahui berat badan dengan cukup mengetahui satu komponen, yakni lingkar dada. Rumus itu dinamai namanya sendiri rumus Schoorl yaitu Bobot Badan (kg) = {lingkar dada (cm) + 22}dikuadratkan dibagi 100. Sementara Scheiffer mengadopsi rumus tabung dengan menampilkan formula, yakni Bobot Badan (lubels) = {lingkar dada (inchi) kuadrat x panjang badan} (inchi) dibagi 300. Rumus ini disesuaikan oleh Lambourne dengan mengonversi ke dalam satuan yang cocok dengan kehidupan masyarakat kita, yakni Bobot Badan (kg) = {lingkar dada (cm) kuadrat x panjang badan (cm)} dibagi 10840.

Sejumlah peneliti mencoba membuktikan keakuratan rumus-rumus itu diuji-cobakan terhadap beberapa kelompok sapi antara bobot taksir dan bobot timbangan. Hasilnya rumus Scheiffer dan Lambourne lebih mendekati berat real sapi sebenarnya dengan tingkat kesalahan di bawah 10 persen. Sedangkan rumus Schoorl tingkat kesalahannya mencapai 22,3 persen. Perbedaan perhitungan berat pada mahluk hidup adalah wajar, karena bobot hewan sangat dipengaruhi situasi dan kondisi lingkungan, yakni gelisah (stress), habis makan, banyak minum atau baru buang feses. Hewan yang ditimbang sekalipun, akibat buruk perlakuan dan pengangkutan dapat menyebabkan susut tubuh 5-10%.

Dengan memperoleh angka taksiran bobot hidup, maka persentase karkas dan daging dapat segera diketahui. Karkas sapi berkisar 47-57 persen dari bobot hidupnya dan daging 75 persen dari karkas. Karkas adalah potongan daging tulang tanpa kepala, kaki, kulit dan jeroan. Untuk domba persentase karkasnya sekitar 45 persen dan dagingnya 75 persen dari karkas. Kalkulasi ini sangat penting untuk dapat memperkirakan jumlah daging dibandingkan jumlah mustahik (penerima daging kurban) juga dapat dijadikan perbandingan harga apakah hewan kurban yang dibeli terlalu mahal atau tidak dibanding harga pasaran.

Satu lagi penting kemampuan menaksir amat penting sebagai syarat sah hewan kurban yaitu menaksir umur. Umur ternak dapat diketahui berdasarkan susunan gigi geliginya. Mintalah si penjual memperlihatkan susunan gigi seri (berada di rahang bawah). Bila gigi seri dewasa telah tumbuh (tampak besar dan kuat seperti kapak, gigi susu kecil-kecil seperti sisir jagung muda), maka hewan dipandang dewasa/cukup umur (musinnah). Pada domba dan kambing perubahan ini terjadi pada umur 1-1,5 tahun dan sapi 2-2,5 tahun.

Kemampuan menaksir ini akan semakin baik dan hasil makin akurat bila sering diasah. Bagi yang sudah mahir seperti blantik atau bakul hewan, kegiatan menaksir hewan cukup ditilik dari atas mobil atau sepeda motornya. Paling banter mereka cukup meraba punggung untuk menentukan gemuk atau kurus.
  

rumus Schoorl yaitu Bobot Badan (kg) = {lingkar dada (cm) + 22}dikuadratkan dibagi 100. Sementara Scheiffer mengadopsi rumus tabung dengan menampilkan formula, yakni Bobot Badan (lubels) = {lingkar dada (inchi) kuadrat x panjang badan} (inchi) dibagi 300. Rumus ini disesuaikan oleh Lambourne dengan mengonversi ke dalam satuan yang cocok dengan kehidupan masyarakat kita, yakni Bobot Badan (kg) = {lingkar dada (cm) kuadrat x panjang badan (cm)} dibagi 10840.

Berikut cara mengukur lingkar dada dan panjang badan:




Cara Mudah Mendeteksi Sapi Bunting

Usaha peternakan sapi di Indonesia didominasi oleh usaha skala rumah tangga dimana kepemilikan ternak hanya 2 sampai lima ekor. Pada kondis...