Senin, 27 April 2015

Cara Mudah Mendeteksi Sapi Bunting

Usaha peternakan sapi di Indonesia didominasi oleh usaha skala rumah tangga dimana kepemilikan ternak hanya 2 sampai lima ekor. Pada kondisi tersebut sudah barang tentu modal yang dimiliki peternak tidak begitu banyak, sehingga teknologi yang digunakan juga sederhana dan murah.
Dalam usaha pembibitan sapi yang hasil akhirnya adalah pedet lepas sapih, deteksi kebuntingan dini merupakan point penting untuk mengontrol produktivitas induk. Semakin cepat seekor ternak terdeteksi bunting atau tidak akan semakin baik, jika seekor sapi sudah terdeteksi bunting maka dapat segera mendapat perlakuan selayaknya sapi bunting untuk mendapatkan pedet yang berkualitas. Sebaliknya jika setelah dikawinkan jelas terdeteksi ternak tidak bunting maka pada siklus birahi berikutnya dapat dikawinkan, apabila terlewat 1 siklus boleh dikatakan peternak rugi waktu selama 1 bulan dan tentunya rugi biaya pakan dalam waktu tersebut. Untuk deteksi kebuntingan banyak cara yang dapat dilakukan antara lain :
1.  Palpasi rectal, yaitu dengan perabaan langsung, cara ini membutuhkan ketermapilan khusus sehingga tidak semua orang dapat melakukannya. Biasanya dilakukan oleh dokter hewan atau petugas yang telah mengikuti pelatihan pemeriksaan kebuntingan. Deteksi kebuntingan dengan cara ini biasanya pada kebuntingan diatas 2 bulan, dan sulit dilakukan pada kebuntingan kurang dari 2 bulan.
2.  RIA (Radio Immuno Assay) yaitu teknik dengan mengukur kosentrasi hormon. Dengan metode ini hampir semua hormon dapat diukur kadarnya, akan tetapi secara komersial, metode RIA terlalu mahal digunakan sebagai metode untuk mendeteksi kebuntingan ternak (Partodihardjo, 1992)
3.  Secara kimiawi, yaitu dengan memanfaatkan asam sulfat (H2SO4), Menurut Partodihardjo (1992), asam sulfat yang dapat digunakan untuk deteksi kebuntingan. Ditambah Satriyo (2001), metode deteksi ini telah diterapkan untuk mendeteksi kebuntingan ternak sapi, di dalam urine sapi yang sedang bunting mengandung hormon estrogen yang dihasilkan oleh plasenta.
Dari ketiga cara diatas penggunaan asam sulfat untuk deteksi kebuntingan menjadi alternative yang murah dan mudah dilakukan, tanpa harus memiliki keterampilan khusus.
            Prinsip kerja deteksi kebuntingan menggunakan asam sulfat adalah akan membakar zat organik dalam hal ini hormone yang terdapat pada urine sapi bunting. Partodihardjo (1992), menyatakan larutan 2 ml urine ditambah 10 ml aquadest kemudian dibakar dengan 15 ml asam sulfat pekat akan menimbulkan gas fluorescence di permukaan cairan. Gas tersebut timbul karena adanya hormon esterogen di dalam urine. Hormon esterogen diproduksi jika seekor ternak telah mengalami perkawinan dan berada pada proses kebuntingan. Ditambah oleh Illawati (2009), penggunaan volume asam sulfat pekat 0.5 ml yang lebih efektif untuk deteksi kebuntingan. Penggunaan asam sulfat pekat 0.5 ml menghasilkan warna yang berubah dari kuning muda menjadi keunguan ini menunjukan kebuntingan yang jelas.
            Prosedur kerja deteksi kebuntingan menggunakan asam sulfat (H2SO4) sebagai berikut :
  1. Siapkan alat dan bahan yaitu : gelas minum kaca bening (tanpa gambar), kertas putih sebagai alas gelas dan batang pengaduk. Bahan yang digunakan; urine sapi/kambing/domba yang baru (1 – 2 cc), air aquadest steril/air mineral (10 cc) dan asam sulfat (H2SO4)/ dapat pula menggunakan air accu (accu zur) (1cc).
  2. Taruh gelas kaca bening diatas sehelai kertas putih.
  3. Tampunglah urine segar saat kencing langsung dalam wadah yang bersih. Merangsang kencing  ternak sapi : siram punggung ternak dengan air dan tunggu beberapa saat. Merangsang kencing kambing/domba : bekep mulut ternak sampai meronta dan tunggu beberapa saat.
  4. Ambil 2 cc urine tersebut dan masukkan dalm gelas kaca bening.
  5. Tambahkan sebanyak 10 cc air aquadest steril/air mineral, kemudian aduk merata.
  6. Tambahkan cairan air aki sebanyak 1 cc.
  7. Aduk sampai rata dan kemudian tunggu 5- 10 menit.

Amati apakah urine tersebut berubah warna atau tidak, jika urine berubah warna dari kuning menjadi keungunan berarti ternak tersebut bunting, sebaliknya bila tidak terjadi perubahan warna maka ternak tersebut tidak bunting. Semakin pekat larutan H2SO4 yang digunakan maka perubahan warna yang terjadi akan semakin cepat.
Deteksi kebuntingan ini dapat dilakukan pada hari ke-24 sampai 32 setelah perkawinan. Sedangkan deteksi kebuntingan yang umum dilakukan sekarang adalah dengan palpasi per rectal yang dapat dilakukan 2-3 bulan setelah perkawinan/inseminasi dan semakin tepat dengan bertambahnya umur kebuntingan. 

SELAMAT MENCOBA…


Pustaka
Illawati, R.W., dkk., 2012. Efektifitas Dan Akurasi Penggunaan Erbagai Dosis Asam Sulfat (H2SO4) Pekat Dibandingkan Palpasi Per Rektal Terhadap Uji Kebuntingan Ternak Sapi. Program Pascasarjana Ilmu Ternak Universitas Andalas

Partodihardjo. S, 1992. Imu Reproduksi Hewan, Mutiara Sumber Widya. Jakarta.

Satriyo, U. 2001. Deteksi Kebuntingan dengan Air Aki. Majalah Infovent. Edisi 086 September. Jakarta.

Illawati, R. W. 2009. Efektifitas Penggunaan Berbagai Volume Asam Sulfat pekat (H2SO4) untuk Menguji Kandungan Estrogen dalam Urine Sapi Brahman Cross Bunting. Skripsi. Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian. Sijunjung.

Senin, 17 November 2014

Menyusun Ransum Ayam Buras

Nutrien atau zat pakan adalah zat-zat gizi di dalam bahan pakan yang sangat diperlukan untuk hidup ternak.  Zat-zat tersebut meliputi protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin dan air (Tillman et al., 1998).  Secara kimiawi, zat pakan dapat diketahui melalui analisis proksimat.
Bahan pakan adalah segala sesuatu yang dapat dimakan dan dapat dicerna sebagian atau seluruhnya tanpa mengganggu kesehatan ternak yang memakannya (Tillman et al., 1998).  Ransum adalah campuran dari dua atau lebih bahan pakan yang diberikan untuk seekor ternak selama sehari semalam.  Ransum harus dapat memenuhi kebutuhan zat pakan yang diperlukan ternak untuk berbegai fungsi tubuhnya, yaitu untuk hidup pokok, produksi maupun reproduksi (Siregar, 1995). 
Penyediaan bahan pakan untuk ayam buras terdapat beberapa kendala, antara lain :
v  Penyediaan bahan baku pakan belum memenuhi kebutuhan (kuantitas, kualitas dan kontinuitas)
v  Bahan baku pakan diimport
v  Harga pakan komersial mahal
Adapun cara mengatasi kendala tersebut adalah sebagai berikut :
v  Menggali sumber bahan baku pakan alternatif.
v  Kreatif memanfaatkan bahan pakan spesifik lokasi yang potensial dan kandungan gizi tinggi.
v  Meningkatkan pengetahuan dan informasi dalam mengoptimalkan limbah agroindustri (pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan, dll
v  Memaksimalkan penggunaan bahan pakan lokal dan meminimalkan penggunaan bahan pakan import dalam formulasi pakan.
Beberapa bahan pakan yang biasa digunakan dalam ransum ayam buras seperti pada tabel  berikut :

Tabel .  Komposisi Nutrisi Beberapa Macam Bahan Pakan Untuk Ayam Buras



BAHAN PAKAN
DM (BK)
EM (AME)
PK
LK
SK
Minerals (%)
Ca
P
%
(Kcal/kg)
 (MJ/kg)
(%)
(%)
(%)
Tot
Tot
BAHAN PAKAN SUMBER ENERGI








Bekatul
88
2860
11,97
10,2
7
3
0,04
0,16
Beras pecah kulit
90
2660
11,13
8
1,7
9
0,09
0,04
Dedak Jagung halus
96,9
2950
12,34
7,54
2,1
0,58
0,04
0,15
Dedak Jagung kasar
93,58
2950
12,34
11,86
8
4,3
0,04
0,15
Dedak halus
91
1630
6,82
8
0,4
12
0,12
0,21
Dedak padi
89,32
1800
7,53
8,77
           1
18,51
0,12
0,21
Gaplek
88
3200
13,39
3
0,7
10
0,04
0,36
Gula
86
3350
14,02
0
0
0
0
0
Jagung kuning
89
3370
14,10
8,6
2,6
2
0,02
0,1
Menir
89,5
3390
14,18
8,9
4
3
0,03
0,4
Pollard
91
1300
5,44
15
4
10
0,14
0,32
Sorgum
90,3
3250
13,60
10
2,8
2
0,03
0,1
Tumpi
93,96
2500
10,46
8,66
1,2
21,3
0
0
Tumpi jagung
87,38
2900
12,13
8,66
1,6
21,3
0
0
Putak
87,65
2777
11,62
3,66
3,2
9,95
1,8
0,42
Jagung kuning (Waris)
88,31
3142
13,15
9,17
1,44
2,29
1,15
0,55
Tetes  (Bit)
90
1980
8,28
6,5
0,2
0
0,16
0,2
Tetes  (Tebu)
89
1960
8,20
3
0,1
0
0,9
0,1
Ampas kelapa
86
2350
9,83
21,6
6
12,11
0,21
0,65
Tepung gaplek
91,2
2970
12,43
1,5
0,7
0,9
0,18
0,09
Copra meal (Bungkil kelapa)

1525
6,4
19,2


0,17
0,65
Bungkil biji kapuk
91
2100
8,79
41
4,8
12
0,18
0,33
Bungkil biji karet
89,7
2159
9,03
24,2
3,5
9,8
0,11
0
BAHAN PAKAN SUMBER PROTEIN


0,0





Tepung daun alfafa
90,5
1630
6,82
20
3,6
22
1,5
0,27
Tepung daun lamtoro
88,7
828
3,46
18,9
5,9
16,3
1,4
0,21
Ampas tahu

2450

25,65
1,90
14,53
0,29
0,65
Bungkil kacang tanah
92
2200
9,21
42
1,9
17
0,2
0,2
Bungkil kelapa
91
2200
9,21
18,5
2,5
15
0,2
0,57
Bungkil wijen
88,9
1910
7,99
45
5
5
2
0,3
Peanut hull
91
2000
8,37
7,8
1,9
33,2
0,26
0,07
Animal by product meal








Snail meal (Tepung bekicot)

4906

61,00
6,10
4,50
2,00
0,00
Feather meal (Tepung bulu)

2310

85,00
2,50
1,50
0,32
0,32
Blood meal (Tepung darah)

2750

80,50
1,10
5,10
0,15
0,32
Snail meal (Tepung bekicot)
90,8
4906
20,53
61
6,1
4,5
2
0
Concentrate (konsentrat)








Boiler concentrate (Konsentrat broiler)

2800

41,00
6,00
5,00
2,50
1,50
Layer concentrate (Konsentrat layer)

2500

32,00
6,00
6,00
3,40
0,00


Bagaimana meramu bahan - bahan pakan tersebut sehingga sesuai dengan kebutuhan nutrisi dari ayam buras selengkapnya dapat anda download di link berikut :
menyusun ransum ayam buras

SALAM SUKSES....

Cara Mudah Mendeteksi Sapi Bunting

Usaha peternakan sapi di Indonesia didominasi oleh usaha skala rumah tangga dimana kepemilikan ternak hanya 2 sampai lima ekor. Pada kondis...