Selasa, 02 April 2013

Mengelola Perkawinan Ternak Kambing


I. Pola Perkawinan Ternak Kambing
            Dalam usaha peternakan kambing terutama untuk pembibitan (breeding) pola perkawinan yang baik akan sangat menentukan keberhasilan usaha, untuk itu sebelum memulai usaha pembibitan kambing alangkah baiknya menetahui terlebih dahulu pola perkawinan ternak kambing. Pola perkawinan dalam reproduksi kambing dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu pola perkawinan individu dan pola perkawinan kelompok.
a. Pola Pekawinan Individu
            Pada Pola perkawinan individu maka seekor betina dikawinkan satu persatu dengan pejantan yang telah ditetapkan sebagi pemacek, dalam pola ini pengamatan peternak terhadap batina harus cermat agar perkawinan terjadi pada saat yang tepat sehingga dapat terjadi kebuntingan.
            Tingkat keberhasilan dalam perkawinan individual sangat dipengaruh oleh keterampilan peternak dalam medeteksi birahi pada kambing betina (induk), sehingga perlu pengamatan rutin pada pagi dan sore hari.
            Biasanya seekor pejantan dibiarkan melakukan perkawinan sedikitnya dua kali dengan selang waktu + 30 menit, perkawinan yang baik (coitus) ditandai dengan gerakan induk ang menekan ekor dan tubuh bagian belakang kebawah dengan kuat kira – kira 20 detik.
b. Pola Perkawinan Kelompok
            Pada pola perkawinan ini pejantan terpilih dicampur dengan beberapa betina selama kurun waktu tertentu sampai induk mengalami kebuntingan, disarankan seekor pejantan dicampur dengan betina selama dua siklus birahi (42 – 45 hari ) dengan alasan bila pada siklus birahi pertama tidak terjadi perkawinan maka pa birahi yang ke dua diharapkan perkawinan tidak terlewatkan, sehingga kepastian kebuntingan lebih terjamin.
            Pada pola ini jarak melahirkan antara individu induk lebih pendek, sehingga waktu melahirkan hampir seragam. Setelah betina dipastikan bunting disarankan pejantan agar dikeluarkan dari kandang kelompok, karena jika terus dicampur maka pejantan akan mengalami penurunan libido (agresivitas) terhadap betina yang esterus. Jika pejantan dalam kondisi sangat baik maka rasio pejantan/induk bias mencapai 1/20 – 30, pada pola perkawinan kelompok deteksi birahi oleh pejantan jarang terlewatkan, akan tetapi deteksi birahi oleh peternak juga penting untuk manajemen perkawinan yaitu untuk memprediksi kelahiran sehingga manajemen yang terkait dengan masa kebuntingan, persiapan kelahiran dapat dikelola dengan terencana dan baik.

II. Membuat Kalender Kawin      
            Kalender kawin adalah catatan penanggalan yang berguna untuk menentukan waktu perkawinan, perkiraan hari lahir, waktu perkawinan setelah melahirkan dan waktu penyapihan penyapihan. Yang perlu diperhatikan dalam membuat kalender kawin adalah perkawinan induk muda, masa esterus (birahi), lama kebuntingan,dan waktu penyapihan.
a. Siklus Esterus
            Pada hewan betina yang dewasa seksual dikenal adanya siklus reproduksi. Siklus reproduksi adalah siklus seksual yang terdapat pada individu betina dewasa seksual dan tidak bunting yang meliputi perubahan-perubahan siklik pada organ-organ reproduksi tertentu misalnya ovarium, uterus, dan vagina di bawah pengendalian hormon reproduksi. Siklus reproduksi meliputi antara lain siklus esterus, siklus ovarium, dan siklus menstruasi. Dalam bahan ajar ini hanya dibahas tentang siklus esterus.
            Pada kebanyakan vertebrata dengan pengecualian primata, kemauan menerima hewan-hewan jantan terbatas selama masa yang disebut estrus atau berahi. Selama estrus, hewan-hewan betina secara fisiologis dan psikologis dipersiapkan untuk menerima hewan-hewan jantan, dan perubahan-perubahan struktural terjadi di dalam organ assesori seks betina. Hewan-hewan monoestrus menyelesaikan satu siklus estrus setiap tahun, sedangkan hewan-hewan poliestrus menyelesaikan dua atau lebih siklus estrus setiap tahun apabila tidak diganggu dengan kebuntingan.
            Demikian juga dengan kambing betina hanya mau menerima pejantan jika dalam masa esterus atau birahi. Masa birahi adalah Periode dimana secara psikologis dan fisiologis hewan betina bersedia menerima pejantan. Ketika berahi, seekor betina berada pada status psikologis yang berbeda secara jelas dibandingkan dengan sisa periode di luar berahi di dalam siklus. Pejantan biasanya tidak menunjukkan perhatian seksual pada betina di luar masa berahi, dan bila pejantan akan mengawininya, maka akan ditolak.
          Bila terjadi perkawinan diluar masa birahi maka tidak akan terjadi kebuntingan, oleh karena itu waktu perkawinan yang tepat akan menentukan terjadinya kebuntingan. Pada kambing betina masa birahi berlangsung selama 12-48 jam, sangat bervariasi antar induk. Ovulasi (pelepasan sel telur) terjadi 12-36 jam setelah birahi muncul, dan saat kawin paling tepat adalah setelah ovulasi berlangsung. Oleh karena itu, pada sistem perkawinan yang dilakukan secara terkontrol yaitu setiap individu induk telah diprogramkan atau ditetapkan untk dikawinkan dengan pejantan terseseleksi tertentu, maka apabila pada seekor induk birahi muncul pada pagi hari sebaiknya induk dikawinkan pada sore harinya, atau bila birahi timbul pada sore hari induk sebaiknya dikawinkan pada keesokan paginya. Pada sistem perkawinan kelompok dimana pejantan disatukan dalam kelompok betina, perkawinan dapat terjadi setiap saat, terutama 12-15 jam setelah tanda birahi muncul (setelah ovulasi). Perlu diingat bahwa masa hidup sel telur berkisar antara 12-24 jam, sedangkan masa hidup sperma didalam saluran reproduksi induk antara 24-48 jam. Oleh karena itu, terdapat waktu yang cukup panjang agar pembuahan sel telur oleh sperma dapat berlangsung dengan baik. Siklus birahi atau selang waktu antara dua birahi pada induk kambing berlangsung selama 18-22 hari.
        Banyak tanda-tanda dapat diamati yang menunjukan timbulnya birahi pada seekor induk kambing. Menjelang masa birahi (pro-estrus) ternak lain sering mencoba menaiki induk, namun biasanya induk menunjukan reaksi penolakan. Namun, bila telah memasuki periode estrus (birahi) reasksi nduk biasanya tidak menolak, bila dinaiki oleh ternak lain dalam kelompoknya. Induk juga biasanya mengeluarkan suara yang khas seolah kelaparan atau kesakitan dan menggerakan ekor secara konsisten. Pada kebanyak induk organ vulva mengalami pembengkakan dan berwarna kemerahan. Beberapa induk sering mengeluarkan cairan dari vulva yang awalnya bening, namun berubah menjadi kental dan berwarna putih pada saat memasuki masa akhir birahi. Frekuensi urinasi (mengeluarkan air seni) akan meningkat dan bermaksud untuk menarik perhatian pejantan. Jika terdapat induk yang dalam masa birahi, pejantan biasanya menunjukan ‘rekasi Flehmen’ yaitu gerakan dengan menggulung/memutar kebelakng bibir bagian atas sambil mengangkat kepala dan mendengus. Reaksi ini umum terjadi pada binatang berkuku sebagai respon terhadap aroma khas yang berasal dari urin betina yang dalam masa birahi.
Pengamatan berulang/beberapa kali dalam sehari perlu dilakukan oleh peternak untuk memastikan apakah induk dalam masa birahi atau tidak. Hal ini penting artinya untuk meningkatkan efisiensi reproduksi induk kambing. Jika terdapat induk atau beberapa induk yang tidak menunjukan gejala birahi yang jelas, maka dapat digunakan pejantan untuk memicu timbulnya birahi. Sebaiknya digunakan pejantan dewasa yang memiliki aroma khas. Umumnya, birahi yang timbul pada seekor induk dalam suatu kelompok setelah dicampur dengan pejantan akan memicu timbulnya birahi pada induk lain.
Gambar1. Betina yang sedang birahi menunjukan tanda yang khas dan akan menarik perhatian  
                   pejantan sehingga memungkinkan perkawinan pada waktu yang tepat

b. Perkawinan Induk Muda
            Masa produktif seekor induk dimulai saat terjadi perkawinan dengan pejantan yang subur. Penentuan umur kawin pada induk muda sering menjadi pertimbangan dalam pengelolaan induk. Namun, umur sebenarnya bukan satu-satunya faktor utama yang menentukan saat kawin yang optimal pada induk muda. Faktor lain yang sangat penting adalah bobot tubuh. Pada saat timbulnya birahi pertama kali pada induk muda, induk secara biologis sudah mau menerima pejantan. Oleh karena itu pada prinsipnya induk muda dapat dikawinkan pada umur 7 bulan saat tanda birahi pertama timbul. Namun sebaiknya perkawinan ditunda sampai induk mencapai bobot tubuh tertentu. Direkomendasian bahwa saat yang paling baik untuk pertama kawin adalah pada saat bobot tubuh mencapai 70-75% dari potensi bobot dewasa tubuhnya. Ada pengalaman bahwa perkawinan pertama kali induk muda pada bobot tubuh dan umur yang tidak optimal berpotensi memiliki jumlah anak perkelahiran yang tunggal selama masa produksinya. Perkawinan pertama pada umur muda atau bobot tidak optimal berpotensi menyebabkan induk melahirkan anak dengan bobot tubuh yang rendah pula atau induk tidak pernah mampu mencapai potensi bobot tubuhnya.
                Besaran bobot dewasa tubuh sangat tergantung kepada ras atau bangsa kambing. Oleh karena bobot tubuh berhubungan erat dengan umur, maka rekomendasi umur kawin pertama juga tergantung kepada bangsa kambing. Bangsa kambing dengan bobot tubuh besar, seperti kambing Boer biasanya dikawinkan pada umur yang lebih tua dibandingkan dengan bangsa kambing dengan ukuran tubuh kecil, seperti kambing Kacang. Pada kambing Boer misalnya, induk biasanya dikawinkan pertama kali pada umur 15 bulan atau lebih. Pada bangsa kambing Kacang induk muda biasanya dikawinkan pada umur 8-9 bulan atau saat mencapai bobot tubuh sekitar 14-16 kg.
c. Masa Kebuntingan
Kebuntingan pada seekor induk dapat dianggap terjadi apabila induk tidak menunjukan tanda birahi kurang lebih 3 minggu setelah terjadi perkawinan. Proses kebuntingan pada induk menimbulkan banyak perubahan fisiologis, sehingga setiap cekaman dari luar harus dapat dicegah semaksimal mungkin. Kepekaaan induk terhadap berbagai potensi cekaman ini semakin kuat seiring dengan bertambahnya usia kebuntingan.. Masa bunting pada induk kambing sekitar 5 bulan (146-1 55 hari), namun periode paling kritis terjadi selam 6-8 minggu sebelum melahirkan, karena 80% pertumbuhan janin terjadi dalam masa singkat tersebut. Oleh karena itu, mengetahui saat terjadinya perkawinan menjadi sangat penting dalam menduga umur kebuntingan seekor induk.
Walaupun mengetahui saat kawin, umur kebuntingan dan prediksi waktu melahirkan sangat strategis dalam mengelola usaha produksi kambing, namun hal tersebut sering tidak diperhatikan oleh petetrnak. Beberapa tanda kebuntingan tua dapat digunakan sebagai alat bantu manajemen. Sebulan sebelum melahirkan induk kebuntingan jelas terlihat dengan membesarnya perut sebelah  secara nyata, disertai pula dengan pembesaran ambing dan puting yang sangat jelas.
d. Perkawinan Setelah Melahirkan
          Setelah induk melahirkan maka seekor induk akan memasuki masa laktasi yang biasanya berlangsung sekitar 4 bulan sampai anak dapat disapih. Pada masa ini induk juga mengalami masa esterus dan dapat dikawinkan lagi. Perkawinan pertama induk setelah melahirkan adalah 1,5 – 2 bulan. Hal ini didasarkan waktu involusi uteri (kembalinya uterus ke bentuk dan besar yang normal sebelum kebuntingan) selama 20 – 35 hari.Deteksi birahi mulai dilakukan ketikan anak berumur 1 bulan. Karena pada birahi pertama dikhawatirkan kondisi uterus belum optimal maka disarankan untuk perkawinan dilakukan setelah muncul birahi kedua atau 45 – 50 hari pasca melahirkan. Jika pada perkawinan ini terjadi kebuntingan dengan lama bunting 5 bulan maka interval (jarak) bernaka bias 7 – 8 bulan, dengan demikian dalam 2 tahun seekor induk dapat beranak 3 kali.
e. Kalender Kawin
          Untuk mengatur perkawinan, memperkirakan kelahiran, dan manejemen yang berkaitan dengan produksi kita perlu membuat kalender perkawinan ternak kambing. Untuk membuat kalender kawin kita perlu melakukan segala hal yang berhubungan dengan perkawinan yaitu, tanggal kawin, tanggal beranak, tanggal esterus birahi.
          Berikut contoh diagram rencana perkawinan seekor kambing betina.
                 

                                        Gambar2 : Skema mengawinkan kambing betina

          Untuk dapat memperkirakan kelahiran, menyusui dan dikawinkan lagi setelah melahirkan kita dapat menggunakan kelender reroduksi yang dibuat oleh Soedito Adjisoedarmo dan Amsar (tahun 1983) sperti gambar berikut.
        

                                           Gambar3 : Kalender Reproduksi Ternak Kambing

          Dari gambar diatas bagian tengah dapat diputar untuk menunjukan tanggal perkawinan.Sebagai contoh jika pada tanggal 3 mei terjadi perkawinan (pemacekan), maka pada tanggal 20 mei dilakukan test pemacekan lagi, jika betina esterus makan akan menerima pejantan, jika tidak menerima pejantan kemungkinan besar terjadi kebuntingan setelah perkawinan pada tangga 3 mei. Dari tanggal 3 mei tersebut kita jadikan patokan sebagai tanggal kawin, tinggal kita lihat perkiraan kelahiran yaitu antara akhir September s.d awal oktober. Pada minggu ke 4 s.d minggu ke 9 deteksi birahi dilakukan dan dapat dikawinkan bila terjadi birahi, pada bulan ke 3 setelah melahirkan anak dapat mulai dilatih untuk disapih, sehingga pada akhir bulan ke empat anak kambing (cempe) sudah benar benar disapih. Demikian  siklus tersebut berlangsung selama masa produktif induk kambing
File ini dapat anda download disini atau klik link berikut :
Mengelola Perkawinan Ternak Kambing

11 komentar:

harun mengatakan...

sip terimakasih sharing ilmunya,..

Anonim mengatakan...

terimakasih...
sangat berguna sekali..

Yah Fan mengatakan...

terimakasih...
sangat berguna sekali..

Yah Fan mengatakan...

terimakasih...
sangat berguna sekali..

Ajib Dbel mengatakan...

terimakasih ilmunya

Thomas mengatakan...

sipp, sangat lengkap

aaaaaaaaaaaaa mengatakan...

sip terimakasih sharing ilmunya,..
terimakasih...
sangat berguna sekali..

AGUS WAHYU Widodo mengatakan...

sangat membantu sekali

bams sakti mengatakan...

Berarti kambing kalau belom birahi di kawinkan tidak bunting ya....

Ayul Fitri mengatakan...

Terima kasih bos ilmu nya...

Atep Amin mengatakan...

untuk ukuran kandang kawin berkelompk 10:1 berapa kali berapa ya? mohon jawabannya ditunggu. terimakasih sebeklumnya :)

Cara Mudah Mendeteksi Sapi Bunting

Usaha peternakan sapi di Indonesia didominasi oleh usaha skala rumah tangga dimana kepemilikan ternak hanya 2 sampai lima ekor. Pada kondis...