Menentukan Waktu Perkawinan Sapi


Jarak kelahiran sapi di peternak indonesia rata – rata 18 bulan bahkan sampai 2 tahun, jarak yang cukup lama ini mengakibatkan peningkatan populasi sapi cenderung lambat. Salah satu penyebab lamanya interval kelahiran ini karena kurang terampilnya peternak menentukan waktu perkawinan karena ketidak tahuan bahwa sapinya birahi, atau terlambat mengawinkan setelah birahi berakhir, atau malah terlalu dini. Untuk itulah pentinganya mengetahui siklus estrerus dan ciri – cirinya.

SIKLUS BIRAHI
Pada kebanyakan vertebrata (termasuk sapi) dengan pengecualian primata, kemauan menerima hewan-hewan jantan terbatas selama masa yang disebut estrus atau berahi. Selama estrus, hewan-hewan betina secara fisiologis dan psikologis dipersiapkan untuk menerima hewan-hewan jantan, dan perubahan-perubahan struktural terjadi di dalam organ assesori seks betina. Hewan-hewan monoestrus menyelesaikan satu siklus estrus setiap tahun, sedangkan hewan-hewan poliestrus menyelesaikan dua atau lebih siklus estrus setiap tahun apabila tidak diganggu dengan kehamilan. Siklus estrus adalah siklus reproduksi yang berlangsung pada hewan non primata betina dewasa seksual yang tidak hamil. Pada sapi siklus estrus terdiri atas beberapa fase utama adalah fase diestrus, fase proestrus, fase estrus, dan fase metestrus. 1.Fase diestrus, adalah fase yang ditandai dengan adanya sel-sel epitel berinti dalam jumlah yang sangat sedikit dan leukosit dalam jumlah yang sangat banyak. Lamanya fase ini kurang lebih 55 jam (Billet dan Wild, 1975) 2.Fase proestrus, adalah fase yang ditandai dengan adanya sel-sel epitel berinti berbentuk bulat, leukosit tidak ada atau sangat sedikit. Lamanya fase ini kurang lebih 18 jam (Billet dan Wild, 1975) 3.Fase estrus, adalah fase yang ditandai dengan adanya sel-sel epitel menanduk yang sangat banyak, dan beberapa sel epitel dengan inti yang berdegenerasi. Lamanya fase ini kurang lebih 25 jam (Billet dan Wild, 1975). 4.Fase metestrus adalah fase yang ditandai dengan adanya sel-sel epitel menanduk dan leukosit yang banyak. Lamanya fase ini kurang lebih 8 jam (Billet dan Wild, 1975). Pada saat sapi berada pada fase diestrus, maka pada saat itu sapi-sapi tersebut tidak aktif secara seksual. Semua hewan mamalia betina kecuali primata tingkat tinggi, kopulasi hanya dimungkinkan berlangsung pada periode tertentu di dalam setiap siklus estrusnya. Periode dimana secara psikologis dan fisiologis sapi betina bersedia menerima pejantan dinamakan berahi atau estrus. Ketika berahi, seekor betina berada pada status psikologis yang berbeda secara jelas dibandingkan dengan sisa periode di luar berahi di dalam siklus. Pejantan biasanya tidak menunjukkan perhatian seksual pada betina di luar masa berahi, dan bila pejantan akan mengawini betina, maka sapi betina akan menolak. Banyak hewan ketika berahi menjadi sangat aktif. Babi dan sapi pada saat berahi berjalan empat atau lima kali lebih banyak dibandingkan dengan sisa masa siklusnya. Aktivitas yang tinggi ini disebabkan oleh esterogen. Tikus yang berada di dalam kandang berlari secara spontan jauh lebih banyak ketika berahi dibandingkan selama diestrus (Nalbandov, 1990). Sikluis estrus berhubungan erat dengan perubahan organ-organ reproduksi yang berlangsung pada hewan betina. Banyak hewan ketika berahi menjadi sangat aktif. Babi dan sapi pada saat berahi berjalan empat atau lima kali lebih banyak dibandingkan dengan sisa masa siklusnya. Aktivitas yang tinggi ini disebabkan oleh esterogen. Tikus yang berada di dalam kandang berlari secara spontan jauh lebih banyak ketika berahi dibandingkan selama diestrus (Nalbandov, 1990). Sikluis estrus berhubungan erat dengan perubahan organ-organ reproduksi yang berlangsung pada hewan betina.
DETEKSI BIRAHI
Seekor sapi betina akan menunjukan tanda – tanda birahi jika sudah dewasa kelamin, biasanya pada umur 8 – 11 bulan sapi betina akan menujukan tanda – tanda birahi untuk pertama kalinya. Akan tetapi perkembangan tubuh lebih berpengaruh daripada umur, pada sapi potong biasanya setelah bobot tubuhnya mencapai 45 – 55 %, dari bobot badan dewasa akan menunjukan tandan birahi yang berarti sudah dewasa kelamin. Pada saat birahi ini seekor betina akan mau menerima pejantan untuk melakukan perkawinan. Deteksi birahi sangat penting dilakukan agar produksi pedet dapat optimal, yaitu jarak kelahiran anak 12 bulan. Deteksi birahi sebaiknya dilakukan tiga kali sehari, yaitu pada pagi hari ketika sapi masih santai, pada siang hari ketika sapi beristirahat setelah makan, dan pada sore hari. Disesuaikan waktu siklus birahinya. Pada saat estrus seekor sapi akan menunjukan perubahan baik tingkah laku maupun fisik (terutama pada organ reproduksinya. Pada fase proestrus sapi mulai sedikit gelisah dan melenguh, gejala birahi mulai nampak namun masih menolak pejantan untuk kopulasi, servik mulai rileks, dan lumen servik mulai memproduksi lendir. Pada fase estrus sapi gelisah, nafsu makan berkurang bahkan hilang, mau menerima pejantan untuk kopulasi, keluar lendir bening yang banyak pada serviks dan mengalir melalui vagina, vagina dan vulva bengkak, kemerahan dan hangat, menaiki temannya dan bila ada pejantan menaiki akan diam saja. Pada fase metestrus gejala dari luar tidak tampak nyata, masih ada sisa – sisa gejala estrus, menolak pejantan, serviks menutup dan sekresi serviks mengental. Pada fase diestrus tidak ada aktivitas alat kelamin dan sapi menjadi tenang.Berikut tanda - tanda sapi birahi Saling menaiki bila ditekan pada lumbai terlihat rileks Keluar lendir bening/ transparan Selaput mukosa vagina merah Vulva bengkak
MENGAWINKAN SAPI
Setelah deteksi birahi dilakukan dan seekor sapi terdeteksi mulai birahi langkah selanjutnya adalah menentukan waktu yang tepat untuk mengawinkan sapi tersebut. Perkawinan dilakukan sebaikya dilakukan 12 jam setelah seekor betina terdeteksi birahi, diharapkan pada saat itu ovulasi sudah terjadi sehingga pertemuan sel jantan dan sel telur dapat terjadi. Bila perkawinan dilakukan terlalu dini dikhawatirkan ovulasi terjadi ketika sel sperma sudah mati, atau sebaliknya jika terlambat mengawinkan dikhawatirkan sel telur sudah mati. Jika pada padi hari seekor pejantan tereteksi birahi sebaiknya pada sore hari itu juga sapi dikawinkan, jika menunggu sampai esok hari maka sudah terlambat. Jika seekor sapi terdeteksi birah pada sor hari maka esok paginya sebelum jam 12 harus dikawinkan jika menunggu sampe sore harinya maka akan terlambat. Perkawinan dapat dilakukan secara alami maupun dengan inseminasi buatan. Secara alami perkawinan menggunakan pejantan langsung, dengan cara ini secara tidak langsung seekor pejantan akan ikut mendeteksi apakah betina tersebut birahi, karena betina yang birahi akan mengeluarkan aroma khas yang akan menarik pejantan untuk melakukan perkawinan. Deteksi birahi oleh pejantan ini dapat dimafanfaat untuk mendeteksi kejadian birahi tenang pada sapi. Pada inseminasi buatan perkawinan dilakukan menggunakan sperma yang diproduksi balai inseminasi buatan. Kenunggulan inseminasi buatan adalah pejantan yang digunakan berkualitas baik dan sudah teruji.
Kritik, saran dan komentar anda sangat saya butuhkan demi perbaikan dimasa mendatang.

Komentar

Postingan Populer