Kamis, 18 Juli 2013

Jenis - Jenis Sapi Potong di Indonesia

Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah :
1. Sapi Bali
Cirinya berwarna merah bata (pedet dan betina dewasa) sedangkan jantan yang sudah dewasa kelamin akan berubah warna menjadi hitam dengan warna putih pada kaki dari lutut ke bawah dan pada pantat, punggungnya bergaris warna hitam (garis belut). Keunggulan sapi ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang baru. Lihat juga posting Sapi Bali

2. Sapi Ongole
Cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah.

3. Sapi Brahman
Cirinya berwarna coklat hingga coklat tua, dengan warna putih pada bagian kepala. Daya pertumbuhannya cepat, sehingga menjadi primadona sapi potong di Indonesia.

4. Sapi Madura
Sapi madura tidak jauh berbeda dengan sa[i bali hanya saja pada bagian lutut kebawah dan pantat tidak berwarna putih, ukurannya sedikit lebih kecil daripada sapi bali. selain itu juga berpunuk, berwarna kuning hingga merah bata, terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor dan kaki bawah. Jenis sapi ini mempunyai daya pertambahan berat badan rendah.

5. Sapi Limousin
Mempunyai ciri berwarna hitam bervariasi dengan warna merah bata dan putih, terdapat warna putih pada moncong kepalanya, tubuh berukuran besar dan mempunyai tingkat produksi yang baik

6. Sapi Simmental
merupakan tipe sapi perah dan pedaging, warna bulu coklat kemerahan (merah bata), dibagian muka dan lutut kebawah serta ujung ekor ber warna putih.

Berdasarkan riset, sapi potong di indonesia yang biasa diternakkan adalah peranakan ongole dan simmental. Peranakan ongole (sapi PO) dipilih karena daya adaptasi tinggi, tahan terhadap caplak, namun produksi daging tidak sebegitu tinggi daripada simmental. Sapi ini sebenarnya tipe pekerja, namun di indonesia memang sapi inilah pilihan yang banyak. Sedangkan simmental digunakan karena dagingnya yang lebih tinggi (biasanya sih 600-800 kg). Kelemahannya, karena merupakan sapi luar yang disilangkan dengan sapi lokal, adaptasi memang tidak sebagus seperti sapi lokal lainnya. Juga masalah pakan harus diperhatikan.

Selasa, 16 Juli 2013

Membuat Jerami Fermentasi


Sebelum jerami padi sebagai limbah pertanian di manfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia (misalnya sapi) sebaiknya jerami tersebut di olah terlebih dahulu untuk meningkatkan kualitasnnya, mengingat kandungan serat kasar dan ikatan lignin yang cukup tinggi. Pengolahan secara kimiawi dengan memanfaatkan urea  dapat dilihat di Amoniasi Jerami.

Berikut langkah – langkah penglolahan jerami secara biologi yaitu dengan memanfaatkan probiotik sebagai starter fermentasi:
·       Persiapkan bahan dan alat-alat : probiotik, urea, ember plastik, timbangan, masker penutup mulut dan hidung
·       Membuat campuran urea dan probiotik sesuai kebutuhan jerami yang akan difermentasi (misal : BIOFAD 1-1,5 kg + UREA 2-4 kg untuk 1 ton jerami )
·      Membuat hamparan dengan ketebalan ± 25 cm dari jerami berkadar air ± 50% (dipanen musim kemarau atau jerami padi musim penghujan yang telah dijemur sehari) atau bisa juga menggunakan jerami kering kemudian dikocor dengan air secukupnya. Selanjutnya hamparan jerami dipadatkan dengan cara menginjak-injak lalu ditaburi secara merata  dengan
campuran urea.-probiotik.
·    Membuat hamparan jerami yang kedua di atas hamparan pertama dengan ketebalan sama ± 25 cm, lalu dipadatkan dengan cara menginjak-injak, kemudian ditaburi dengan campuran urea-probiotik secara merata.
·  Demikian seterusnya, setelah semua jerami dihamparkan dan dipadatkan selanjutnya dilakukan penutupan tumpukan jerami dengan menggunakan terpal plastik.
·      Selanjutnya bersihkan semua peralatan yang telah selesai digunakan dan disimpan pada tempatnya.

Jerami yang telah diolah setelah 3 minggu (21 hari) dapat dibuka dan dibongkar/diaduk-aduk, lalu diangin-anginkan. Jerami olahan telah siap digunakan sebagai pakan berkualitas untuk ternak sapi, atau disimpat digudang sebagai cadangan pakan.


Selasa, 18 Juni 2013

Sapi Bali

Mungkin sebagian petani ternak di indonesia jika mendengar kata sapi bali berasumsi sapi yang kecil, dan berkualitas kurang baik, asumsi ini yang perlu diluruskan bahwa sapi bali berkualitas jelek tidaklah benar. Justru sapi bali adalah kekayaan indonesia yang patut kita banggakan dan lindungi. Walaupun postur tubuh sapi bali tidak sebesar sapi sapi dari eropa bukan berarti kualitas sapi bali kalah dari sapi eropa. Mari kita lihat dan kenali sapi bali sebagai sapi asli indonesia dengan segala kelebihannya.

Sapi Bali (Bos Sondaicus) telah mengalami proses domestikasi banteng yang terjadi sebelum 3.500 SM di wilayah pulau jawa atau bali dan lombok, hal ini diperkuat bahwa sampai sekarang masih dijupai banteng yang hidup liar di beberapa lokasi di jawa seperti di ujung kulon. Pulau bali merupakan pusat gen sapi Bali. Sapi Bali dikenal juga dengan Balinesse Cow kadang kadang disebut juga Bibos javanicus

Ciri - ciri sapi bali :
  • Warna bulunya pada badannya akan berubah sesuai usia dan jenis kelaminnya, sehingga termasuk hewan dimoprhism-sex. Pada saat masih “pedet”, bulu badannya berwarna sawo matang sampai kemerahan, setelah dewasa Sapi Bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi Bali betina. Warna bulu sapi Bali jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat tua atau hitam setelah sapi itu mencapai dewasa kelamin sejak umur 1,5 tahun dan menjadi hitam mulus pada umur 3 tahun. Warna hitam dapat berubah menjadi coklat tua atau merah bata apabila sapi itu dikebiri, yang disebabkan pengaruh hormon testosterone
  • Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Warna bulu putih juga dijumpai pada bibir atas/bawah, ujung ekor dan tepi daun telinga. Kadang-kadang bulu putih terdapat di antara bulu yang coklat (merupakan bintik-bintik putih) yang merupakan kekecualian atau penyimpangan ditemukan sekitar kurang dari 1% . Bulu sapi Bali dapat dikatakan bagus (halus) pendek-pendek dan mengkilap.
  • Ukuran badan berukuran sedang dan bentuk badan memanjang.
  • Kepala agak pendek dengan dahi datar.
  • Badan padat dengan dada yang dalam.
  • Tidak berpunuk dan seolah tidak bergelambir
  • Kakinya ramping, agak pendek menyerupai kaki kerbau.
  • Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.
  • Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam
  • Tanduk pada sapi jantan tumbuh agak ke bagian luar kepala, sebaliknya untuk jenis sapi betina tumbuh ke bagian dalam.
Berikut gambar sapi bali jantan dewasa



Berikut gambar sapi bali betina dewasa



Seperti kita tahu bahwa ukuran sapi bali tidak sebesar sapi dari eropa, akan tetapi banyak keunggaulan yang dimiliki sapi bali antara lain:
  1. Tahan terhadap panas. Sapi bali memiliki heat tolerance yang paling baik dibandingkan sapi dari eropa maupun sapi tropis yang lain. Hal ini tentunya baik untuk dipelihara/dikembangkan di Indonesia yang beriklim tropis, dimana suhu cukup tinggi.
  2. Kemampuan adaptasi dengan pakan yang berkualitas rendah sehingga sapi bali cocok dibudidayakan di daerah dengan lahan kritis sekalipun. atau didaerah dengan curah hujan yang rendah dimana sulit mendapatkan pakan dengan kualitas yang baik.
  3. Fertilitas/ kesuburan yang tinggi, dibandingkan dengan sapi eropa dan sapi tropis lain seperti PO, fertilitas sapi bali lebih baik yaitu diatas 80%, sedangkan sapi eropa sekitar 50% s.d 70%, dan sapi Po sekitar 35% s.d 60%, artinya setiap terjadi perkawinan kemungkinan terjadi kebuntingan sekitar 80%
  4. Jarang terjadi kasus distocia atau kesulitan melahirkan.
  5. Prosentase karkas tinggi yaitu dapat mencapai 56%, hanya sedikit dibawah sapi eropa yang dapat mencapi 58%
  6. Kandungan lemak karkas rendah, seperti kita tahu bahwa yang dicari adalah daging bukan lemak, jadi jika perlemakannya rendah akan sangat menguntungkan.


Akan tetapi sapi bali juga memiliki kelemahan antara lain:
  1. Dapat terserang penyakit jembrana (sapi bali yang ada di Bali) yang menular dengan perantara lalat, akan tetapi untuk sapi bali yang ada di pulau timor (sapi timor) lebih tahan terhadap penyakit ini.
  2. Rentan terhadap Malignant Catarrhal Fever, jika berdekatan dengan Domba, karena domba menjadi perantara penyakit yang disebabkan oleh virus ini
Dari uraian diatas jelaslah bahwa sapi bali adalah sapi unggul yang cocok untuk dibubdidayakan di Indoneia dan kelemahan yang ada dapat diatasi dengan manajemen pemeliharaan yang baik.


Rabu, 12 Juni 2013

Jerami Sebagai Pakan Kambing

Mungkin terdengar aneh ketika kita mendengar kambing di beri pakan jerami, pada umumnya jerami padi banyak diberikan pada sapi. Pada dasarnya ternak kambing memiliki saluran pencernaan yang sama dengan sapi keduanya sama sama ternak ruminansia (lihat Mengapa Sapi Tidak Makan Sate??!). Kesulitan memerikan jerami pada ternak kambing karena jerami memiliki kandungan serat kasar yang cukup tinggi, sehingga kambing cenderung memilih pakan yang mempunyai kandungan serat kasar lebih rendah dan berkualitas baik.
Kesulitan tersebut hanyalah masalah kebiasaan saja, dimana kambing tidak terbiasa dengan jerami padi sebagai makanan utama. Untuk dapat membiasakan kambing makan jerami dapat dilakukan dengan cara sederhana. Pada awalnya  ternak kambing harus dipuasakan terlebih dahulu dari makanan lain selama seminggu, artinya kambing hanya diberi pakan jerami saja dan tentunya air minum tidak boleh kurang.  Pada saat pemberian jerami dapat diperciki air garam atau dengan penambahan molases, selain menambah nutrusi bagi ternak molase juga memiliki aroma yang disukai ternak. Setelah kambing mulai terbiasa dengan jerami padi baru ditambah dengan pakan lain yang memiliki kualitas lebih baik agar kebutuhan nutrisinya tercukupi. Seperti kita ketahui bahwa kualitas jerami sebagai pakan ternak rendah sehingga jika ternak hanya diberi pakan jerami padi saja kebutuhan nutrisinya tidak akan terpenuhi.
Walaupun kualitas jerami sebagai pakan rendah akan tetapi ketersediaannya cukup banyak sehingga dapat dijadikan pakan alternatif yang murah untuk ternak ruminansia seperti kambing dan sapi. Rendahnya kualitas jerami dapat kita tingkatkan baik dengan amoniasi maupun fermentasi, sehingga jerami lebih mudah dicerna oleh ternak.
Pembiasaan pemberian pakan seperti diatas tidak hanya untuk jerami padi, akan tetapi dapat juga untuk membiasakan ternak dengan bahan pakan lain.
Selamat Mencoba.....

Selasa, 14 Mei 2013

Menentukan Waktu Perkawinan Sapi


Jarak kelahiran sapi di peternak indonesia rata – rata 18 bulan bahkan sampai 2 tahun, jarak yang cukup lama ini mengakibatkan peningkatan populasi sapi cenderung lambat. Salah satu penyebab lamanya interval kelahiran ini karena kurang terampilnya peternak menentukan waktu perkawinan karena ketidak tahuan bahwa sapinya birahi, atau terlambat mengawinkan setelah birahi berakhir, atau malah terlalu dini. Untuk itulah pentinganya mengetahui siklus estrerus dan ciri – cirinya.

SIKLUS BIRAHI
Pada kebanyakan vertebrata (termasuk sapi) dengan pengecualian primata, kemauan menerima hewan-hewan jantan terbatas selama masa yang disebut estrus atau berahi. Selama estrus, hewan-hewan betina secara fisiologis dan psikologis dipersiapkan untuk menerima hewan-hewan jantan, dan perubahan-perubahan struktural terjadi di dalam organ assesori seks betina. Hewan-hewan monoestrus menyelesaikan satu siklus estrus setiap tahun, sedangkan hewan-hewan poliestrus menyelesaikan dua atau lebih siklus estrus setiap tahun apabila tidak diganggu dengan kehamilan. Siklus estrus adalah siklus reproduksi yang berlangsung pada hewan non primata betina dewasa seksual yang tidak hamil. Pada sapi siklus estrus terdiri atas beberapa fase utama adalah fase diestrus, fase proestrus, fase estrus, dan fase metestrus. 1.Fase diestrus, adalah fase yang ditandai dengan adanya sel-sel epitel berinti dalam jumlah yang sangat sedikit dan leukosit dalam jumlah yang sangat banyak. Lamanya fase ini kurang lebih 55 jam (Billet dan Wild, 1975) 2.Fase proestrus, adalah fase yang ditandai dengan adanya sel-sel epitel berinti berbentuk bulat, leukosit tidak ada atau sangat sedikit. Lamanya fase ini kurang lebih 18 jam (Billet dan Wild, 1975) 3.Fase estrus, adalah fase yang ditandai dengan adanya sel-sel epitel menanduk yang sangat banyak, dan beberapa sel epitel dengan inti yang berdegenerasi. Lamanya fase ini kurang lebih 25 jam (Billet dan Wild, 1975). 4.Fase metestrus adalah fase yang ditandai dengan adanya sel-sel epitel menanduk dan leukosit yang banyak. Lamanya fase ini kurang lebih 8 jam (Billet dan Wild, 1975). Pada saat sapi berada pada fase diestrus, maka pada saat itu sapi-sapi tersebut tidak aktif secara seksual. Semua hewan mamalia betina kecuali primata tingkat tinggi, kopulasi hanya dimungkinkan berlangsung pada periode tertentu di dalam setiap siklus estrusnya. Periode dimana secara psikologis dan fisiologis sapi betina bersedia menerima pejantan dinamakan berahi atau estrus. Ketika berahi, seekor betina berada pada status psikologis yang berbeda secara jelas dibandingkan dengan sisa periode di luar berahi di dalam siklus. Pejantan biasanya tidak menunjukkan perhatian seksual pada betina di luar masa berahi, dan bila pejantan akan mengawini betina, maka sapi betina akan menolak. Banyak hewan ketika berahi menjadi sangat aktif. Babi dan sapi pada saat berahi berjalan empat atau lima kali lebih banyak dibandingkan dengan sisa masa siklusnya. Aktivitas yang tinggi ini disebabkan oleh esterogen. Tikus yang berada di dalam kandang berlari secara spontan jauh lebih banyak ketika berahi dibandingkan selama diestrus (Nalbandov, 1990). Sikluis estrus berhubungan erat dengan perubahan organ-organ reproduksi yang berlangsung pada hewan betina. Banyak hewan ketika berahi menjadi sangat aktif. Babi dan sapi pada saat berahi berjalan empat atau lima kali lebih banyak dibandingkan dengan sisa masa siklusnya. Aktivitas yang tinggi ini disebabkan oleh esterogen. Tikus yang berada di dalam kandang berlari secara spontan jauh lebih banyak ketika berahi dibandingkan selama diestrus (Nalbandov, 1990). Sikluis estrus berhubungan erat dengan perubahan organ-organ reproduksi yang berlangsung pada hewan betina.
DETEKSI BIRAHI
Seekor sapi betina akan menunjukan tanda – tanda birahi jika sudah dewasa kelamin, biasanya pada umur 8 – 11 bulan sapi betina akan menujukan tanda – tanda birahi untuk pertama kalinya. Akan tetapi perkembangan tubuh lebih berpengaruh daripada umur, pada sapi potong biasanya setelah bobot tubuhnya mencapai 45 – 55 %, dari bobot badan dewasa akan menunjukan tandan birahi yang berarti sudah dewasa kelamin. Pada saat birahi ini seekor betina akan mau menerima pejantan untuk melakukan perkawinan. Deteksi birahi sangat penting dilakukan agar produksi pedet dapat optimal, yaitu jarak kelahiran anak 12 bulan. Deteksi birahi sebaiknya dilakukan tiga kali sehari, yaitu pada pagi hari ketika sapi masih santai, pada siang hari ketika sapi beristirahat setelah makan, dan pada sore hari. Disesuaikan waktu siklus birahinya. Pada saat estrus seekor sapi akan menunjukan perubahan baik tingkah laku maupun fisik (terutama pada organ reproduksinya. Pada fase proestrus sapi mulai sedikit gelisah dan melenguh, gejala birahi mulai nampak namun masih menolak pejantan untuk kopulasi, servik mulai rileks, dan lumen servik mulai memproduksi lendir. Pada fase estrus sapi gelisah, nafsu makan berkurang bahkan hilang, mau menerima pejantan untuk kopulasi, keluar lendir bening yang banyak pada serviks dan mengalir melalui vagina, vagina dan vulva bengkak, kemerahan dan hangat, menaiki temannya dan bila ada pejantan menaiki akan diam saja. Pada fase metestrus gejala dari luar tidak tampak nyata, masih ada sisa – sisa gejala estrus, menolak pejantan, serviks menutup dan sekresi serviks mengental. Pada fase diestrus tidak ada aktivitas alat kelamin dan sapi menjadi tenang.Berikut tanda - tanda sapi birahi Saling menaiki bila ditekan pada lumbai terlihat rileks Keluar lendir bening/ transparan Selaput mukosa vagina merah Vulva bengkak
MENGAWINKAN SAPI
Setelah deteksi birahi dilakukan dan seekor sapi terdeteksi mulai birahi langkah selanjutnya adalah menentukan waktu yang tepat untuk mengawinkan sapi tersebut. Perkawinan dilakukan sebaikya dilakukan 12 jam setelah seekor betina terdeteksi birahi, diharapkan pada saat itu ovulasi sudah terjadi sehingga pertemuan sel jantan dan sel telur dapat terjadi. Bila perkawinan dilakukan terlalu dini dikhawatirkan ovulasi terjadi ketika sel sperma sudah mati, atau sebaliknya jika terlambat mengawinkan dikhawatirkan sel telur sudah mati. Jika pada padi hari seekor pejantan tereteksi birahi sebaiknya pada sore hari itu juga sapi dikawinkan, jika menunggu sampai esok hari maka sudah terlambat. Jika seekor sapi terdeteksi birah pada sor hari maka esok paginya sebelum jam 12 harus dikawinkan jika menunggu sampe sore harinya maka akan terlambat. Perkawinan dapat dilakukan secara alami maupun dengan inseminasi buatan. Secara alami perkawinan menggunakan pejantan langsung, dengan cara ini secara tidak langsung seekor pejantan akan ikut mendeteksi apakah betina tersebut birahi, karena betina yang birahi akan mengeluarkan aroma khas yang akan menarik pejantan untuk melakukan perkawinan. Deteksi birahi oleh pejantan ini dapat dimafanfaat untuk mendeteksi kejadian birahi tenang pada sapi. Pada inseminasi buatan perkawinan dilakukan menggunakan sperma yang diproduksi balai inseminasi buatan. Kenunggulan inseminasi buatan adalah pejantan yang digunakan berkualitas baik dan sudah teruji.
Kritik, saran dan komentar anda sangat saya butuhkan demi perbaikan dimasa mendatang.

Minggu, 28 April 2013

membuat spoiler


Spoiler adalah sebuah fitur dalam blog   fungsi utamanya adalah menyembunyikan teks, kode, kalimat atau gambar. Fungsi nya mirip dengan text area yaitu menghemat halaman posting agar tidak terlalu memanjang ke bawah. Saya yakin sobat sudah sering melihat di forum-forum bentuk sebuah spoiler, yaitu jika kita mengklik misalnya "show" atau "hide" atau "close" maka kita bisa melihat gambar / tulisan yang tersembunyi namun bisa dimunculkan.

Spoiler sering kali  dipasang pada sebuah halaman posting, namun ada juga yang memasukkan nya ke dalam sidebar atau footer untuk menyembunyikan widget tertentu. Pada tutorial ini kita akan ikuti cara membuat spoiler dengan isi tulisan dan spoiler dengan isi gambar di posting blogspot.

A. Membuat spoiler dengan isi teks



Klik Show Untuk Membuka Spoiler

Berikut kode spoiler di atas:

<div style="margin-bottom: 2px;">Klik Show Untuk Membuka Spoiler
<div style="margin-top: 5px; text-align: center;"><input value="Show" style="margin-top: 5px; width: 60px; font-size: 10px;" onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Hide'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Show'; }" type="button"> </div>
<div style="border: 1px inset ; margin: 0px; padding: 6px;"><div style="display: none;">Memasang spoiler di blog sangat mudah  Inilah kode untuk membuat spoiler dengan teks </div></div></div>

Keterangan;
  • Klik show untuk membuka bla bla bla bisa sobat ganti termasuk Show
  • Sedangkan kode berwarna biru adalah isi dari spoiler dengan teks. 

 B. Memasang spoiler dengan isi image atau gambar


    Spoiler : 
    Kode spoiler untuk isi gambar di atas;

    <div style="margin: 5px 20px 20px;"><div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;">
    <b>Spoiler</b> : <input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Close'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Open'; }" style="font-size: 11px; margin: 0px; padding: 0px; width: 55px;" type="button" value="Open" /></div>
    <div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 6px; text-align: left;">
    <div style="display: none;">
    <img src="http://julak-project.googlecode.com/files/photos.png" border="0" alt="Post spoiler">
    </div>
    </div>
    </div> 
    Perhatikan cara memasang kode url gambar dengan teks warna biru. Ganti
    http://julak-project.googlecode.com/files/photos.png dengan alamat gambar sobat sendiri yang sudah dihost misalnya di link berikut google code.
    Bagaimana cara memasangnya di posting blog? Saat menulis artikel masuk ke menu  HTMLbukan compose (lihat kiri atas) kemudian masukkan kode-kode diatas.

    Maaf gan hanya repost,. sekedar berbagi pengetahuan dan trik.

    Sabtu, 20 April 2013

    Membuat Silase

    Makanan utama ternak ruminansia seperti sapi dan kambing secara alami adalah hijauan. Akan tetapi kendala yang sering muncul di masyarkat adalah ketrsediaan hijauan yang tidak kontinyu (terus - menerus) sepanjang tahun dalam jumlah yang cukup. Pada musim hujan hijauan melimpah ruah akan tetapi pada musim kemarau jumlahnya sangat sedikit, dan bila adapun kualitasnya cenderung kurang baik (kandungan serat kasarnya tinggi). Untuk mengatasi hal tersebut bisa dilakukan pengawetan hijauan pakan ternak antara lain dengan membuat silase dan hay.

    Silase adalah pakan yang berbahan baku hijauan, hasil samping pertanian atau biji - bijian berkadar air tertentu yang diawetkan dengan cara disimpan dalam tempat yang kedap udara selama kurang lebih 3 minggu. Tempat penyimpanan silase tersebut disebut "SILO", silo dapat terbuat dari drum, kantong plastik, ataupu bak beton dapat juga dengan membuatkolam beton dalam tanah. Prinsipnya silo merupakan tempat atau wadah yang kedap udara sehingga memungkinkan terjadinya fermentasi an aerob.

    Bahan silase dapat berupa hijauan atau bagian lain dari tumbuhan yang disukai ternak ruminansia seperti berbagai jenis rumput, legumeinosa, biji - bijian, tongkol jagung, pucuk tebu dll. Kadar air bahan untuk membuat silase adalah sekitar 65 - 75%, kadar air yang terlalu tinggi akan menyebabkan silase busuk, sedangkan kadar air yang terlalu rendah akan menyebabkan tumbuhnya jamur.

    Tujuan utama pembuatan silase adalah mengawetkan hijauan sehingga pada musim kemarau dimana jumlah hijauan segar sangat kurang bisa dimanfaatkan sebagai tambahan. Dengan demikian diharapakan pada musim kemarau tidak lagi kesulitan menyediakan pakan bagi ternak.

    Setelah hijauan dipotong proses respirasi akan tetap terjadi sampai sel tanaman mati, respirasi ini membutuhkan oksigen, dan kita ketahui pula bahwa respirasi adala proses pembongkaran karbohidrat menjadi energi. Jadi bila proses respirasi hijauan yang baru dipotong dibiarkan terus maka kandungan karbihidrat dalam hijauan tersebut akan menurun. Untuk itulah kita perlu mengentikan proses respirasi tersebut.

    Untuk menghentikan proses respirasi maka dibuatlah kondisi an aerob (bebas oksigen) dengan cara memampatkan bahan hijauan dalam silo sepadat mungkin dan harus ditutup rapat. Hijauan harus dipadatkan sepadat mungkin agar oksigen yang terjebak diantara tumpukan hijauan sesedikit mungkin. Setelah hijauan dimasukan silo dan ditutup rapat masih terjadi proses respirasi sampai oksigen yang terjebak di dalamnya habis.

    Setelah respirasi terhenti maka proses yang terjadi selanjutnya adalah fermentasi, proses ini menyebabkan turunya pH bahan baku silase hingga tidak ada lagi organisme yang tumbuh. Inilah yang menyebabkan hijauan menjadi awet.

    Silase yang baik umumnya dari bahan baku yang baik pula yaitu dari hiajauan yang dipotong tepat waktu yaitu tepat sebelum berbunga. Silase yang baik beraroma dan berasa asam berwarna hijau kekuningan, bila dipegang terasa empuk dan lembut tetapi tidak basah dan berlendir. Bila terlihan berjamur, warna hitam, berair dan beraroma tidak sedap (busuk) berarti kualitasnya rendah.

    Apabila ternak belum terbiasa mengkonsumsi silase maka pemberiannya sedikit demi sedikit dicampur dengan hijauan yang biasa dimakan.



    Untuk menghasilkan Silase Tanpa Bahan Pengawet dibutuhkan :
    Bahan yang terdiri dari :  Rumput Alam Segar 60% dan Daun Gamal 40%, sedangkan alat yang dibutuhkan adalah :
    -   Parang untuk memotong rumput dan gamal
    -   Drum bekas aspal untuk menyimpan campuran rumput dan gamal
    -   Plstik bening untuk menutup drum
    -   Ban dalam bekas sebagai pengikat plastik
    -   Timbangan untuk menimbang rumput dan gamal
    Langkah-langkah praktis dalam pembuatan Silase Tanpa Bahan Pengawet adalah :
    1.      Potong rumput alam, panjang  3 - 5 cm
    2.      Gamal di ambil daunnya
    3.      Jemur atau angin-anginkan selama 15 – 20 menit
    4.      Timbang rumput dan daun gamal dengan perbandingan 60 : 40 %
    5.      Campurlah rumput yang telah dipotong dengan daun gamal secara baik dan rata
    6.      Setelah dicampur masukkan dalam drum sedikit-demi sedikit sambil diinjak sampai    padat betul sehingga tidak ada udara dalam drum
    7.      Segera tutup drum dengan plastik bening dan diikat yang kuat dengan ban dalam         bekas sehingga drum tidak terbuka atau masuk udara
    8.      Simpan ditempat yang aman dan tidak terkena sinar matahari langsung
    9.      Rata-rata berat silase berkisar antara 65 – 85 kg/drum

                                     Gambar 1. Pastikan tidak ada udara dapat masuk kedalam drum




    Gambar 2. Silase yang baik berwarna hijau kekuningan
                                            

    Pemanfaatan Limbah Pertanian Sebagai Pakan Ternak

    Pakan merupakan salah satu faktor terpenting dalam semua usaha peternakan, baik sapi, kambing maupun ternaka unggas. Produktivitas/performans ternak 70% dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan 30% oleh faktor genetik. Ini berart walaupun secara genetik ternak memiliki potensi yang bagus akan ttapi lingkungan tidak mendukung maka performans nya tidak maksimal. Dari faktor lingkungan ini pakan paling berpengaruh yaitu mencapai 60%, jadi tidaklah heran jika pakan menjadi hal yang paling diperhatikan dalam pemeliharaan ternak.

    Karena besarnya pengaruh pakan terhadap produksi maka biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan pakanpun tidak bisa dianggap ringan, bahkan biaya pakan ini mencapai 60 - 80% dari total biaya produksi. Oleh karena itu jika usaha ternak kita dapat engemat biaya pakan akan sangat besar pengaruhnya terhadap produktivitas usaha.

    Pada usaha ternak sapi dan ternak ruminansia lainnya dimana ketersediaan pakan berupa hijauan mutlak dibutuhkan, dengan adanya perubahan alih fungsi lahan dan perubahan iklim akan membatasi ketersediaan bahan pakan bagi ternak tersebut. Selain itu sering kali berebut lahan hijauan pakan ternak dengan lahan pertanian tanaman pangan atau tanaman pertanian lainnya. 

    Untuk itu integrasi dengan usaha pertanian meruppakan alternatif untuk mengembangkan usaha peternakan yang berkesinambungan. Optimalisasi pemanfaatan limbah pertanian dan agroindustri dapat memperbaiki ketersediaan pakan bagi ternak ruminansia. Akan tetapi biasanya limbah pertanian memiliki kualitas yang kurang baik untuk pakan ternak, maka perlu adanya pengolahan terlebih dahulu untuk menngkatkan mutu dari bahan pakan limbah pertanian misalnya dengan amoniasi atau dengan fermentasi.

    Secara bahan pakan asal pertanian dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu bahan limbah pertanian dan bahan limbah agroindustri. Bahan limbah pertanian misalnya jerami padi, jerami jagung, jerami kacang tanah, jerami kedelai, tumpi jagung, tonggkol jagung, kulit kacang tanah, pelepah sawit dll, sedangkan limbah agro industri misalnya dedap padi, ampas tahu, ampas pabrik roti, bungkil kelapa, kedelai afkir dll.

    Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak akan mengurangi ketergantungan terhadap pakan hijauan dari hasil budidaya yang kita ketahui bahwa lahan untuk budidaya pakan ternak terbatas jumlahnya. Selain itu juga dapat menekan biaya pakan karena limbah pertanian (khususnya jerami) harganya murah. Dari  sudut pandang pertanian pemanfaatan limbah ini akan meningkatkan nilai tambah, karena limbah yang biasanya hanya dibakar dapat memiliki nilai ekonomi.

                       

                                   Gambar 1. Jerami padi setelah panen perlu dikeringkan terlebih dahulu sebelum                                        disimpan agar tidah busuk/berjamur



                                      

                                    Gambar 2. Setelah kering jerami dapat disimpan agar terhingdar dari hujan dan sinar
                                                     matahari langsung

    Kamis, 18 April 2013

    Menentukan Lokasi Kandang Sapi Potong

    Pemilihan lokasi ditujukan untuk menunjang keberhasilan usaha sapi potong, baik dari segi teknis maupun ekonomis. Dalam mememilih atau menentukan lokasi, perlu dipertimbangkan beberapa hal, antara lain sumber air, kondisi lahan dan lingkungan sehat.

     1.Dekat Sumber Air 
           Air merupakan kebutuhan yang mutlak, baik untuk keperluan hidup ternak seperti air minum, kebersihan kandang dan kebrsihan lingkungan. Sumber air berasal dari sumur maupun mata air.

    2.Kondisi Lahan 
         Lahan untuk kandang lebih tinggi dari sekelililngnya dan jauh dari rumah dan sumur untuk air minum masyarakat. Hal ini agar kandang dan lingkungannya tetap kering sehingga tidak lembab karena aliran air (drainase) berjalan lancar. Bila kandang dan lingkungnya, lembab, berkembang bibit penyakit dan menyebabkan ternak sakit 

    3. Lingkungan Sehat 
          Untuk memperoleh lingkungan kandang yang sehat, kandang harus mendapat sinar matahari pagi dan sore merata dan sirkulasi udara yang baik. Sinar matahari berfungsi sebagai pembasmi bibit penyakit (desinfektan) dan mempercepat pengeringan kandang dan lingkungan kandang. Selain itu, kandang memperoleh cukup hembusan angin, namun tidak besar. Apabila tiupan angin cukup besar, lingkungan kandang ditanami pepohonan untuk mengurangi hembusan aingin yang kencang. Bila sirkulasi udara lancar, lingkungan kandang sehat dan segar. 

    Berikut langkah dalam memilih lokasi kandang sapi potong: 
    • Pilih lokasi yang mudah untuk transportasi pengadaan pakan dan pemasaran. 
    • Pilih lokasi cukup mendapat sinar matahari pagi dan sore hari secara merata. 
    • Pilih lokasi terlindung dari hembusan angin langsung, 
    • Pilih lokasi yang memiliki sumber air (sumur, mata air) 
    • Pilih lokasi mempunyai areal yang ada dapat diperluas.

    Setelah lokasi kandang ditentukan maka bagaimana meletakan kandang itu? 
    • Ukur jarak kandang minimal 15 m dari sumber air untuk mimum dan 10 m dari rumah. 
    • Buat lahan yang akan digunakan untuk menempatkan kandang lebih tinggi dari lahan sekitarnya 
    • Arahkan kandang menghadap ke arah timur. 

    Bagaimana bentuk kandang sapi,.. tunggu posting selanjutnya.........

    Senin, 15 April 2013

    Menanam Hijauan Pakan Ternak (HPT

    A. Pengolahan Tanah
                Pengolahan tanah bertujuan untuk mempersiapkan media/tempat tumbuh yang optimal bagi hijauan pakan ternak, sebaba tanah yang diolah akan menjamin perkembangan perakaran yang sempurna, memperbaiki aerasi, kelembaban dan kesuburan tanah.
                Penanaman pada tanah gembur, tanah diolah atau dicangkul cukup satu kali, sedangkan pada tanah yang keras atau padat perlu diolah beberapa kali dan digaru sampai tanah menjadi gembur atau pembuatan lobang tanam yang lebih besar agar memudahkan perkembangan akar. Pengolahan tanah yang lebih sempurna akan lebih baik dalam membudidayakan hijauan pakan ternak kerena dengan tekstur tanah yang baik akan memudahkan sistem perakaran tanaman dalam mengabsorbsi unsur hara dan air di dalam tanah.

    B. Persiapan Bibit
                 Dalam mengelola hijauan pakan ternak (HPT), persiapan bibit harus direncanakan terdahulu. Untuk mempersiapakan bibit hijauan pakan ternak perlu diperhatikan cara perkembangbiakan hijauan tersebut, ada hiajauan yang dikembangbiakan secara vegetatif dan cera generatif (melalui biji). Secara generatif menggunakan biji sehingga perlu disemai terlebih dahulu sebelum dilakukan penanaman di lahan pengembangan. Tempat persemaian bemacam - macam ada yang menggunakan sebagian kecilpetakan ada pula yang menggunakan bahan lain seperti polybag, kaleng ember , daun -daun dll.
                Perkembang biakan secara vegetatif dapat berasal dari pols (sobekan) dan juga stek. Bibit yang dipersiapkan harus berasal dari tamanan atau inang yang berkualitas baik dan sehat, tinggi yang sama dalam satu rumpun, panjangnya pols sekitar 10cm dari permukaan tanah. 

    c. Penanaman
               Jarak tanam yang digunakan pada HPT bermacam - macam dan ini sangat tergantung pada jenis hijauan yang ditanam, dan topografi lahan. Untuk jenis - jenis hijauan yang tumbuh tegak dan berumpun jarak tanam yang dapat digunakan adalah 60 - 90 cm x 45 - 60 cm atau 100 x 100, sedangkan untuk jenis yang membentuk stolon atau rhizoma maka jarak tanam yang digunakan 90 x 60 cm, 90 x 100 cm atau 100 x 100 cm
              Begitu pula pada daerah - daerah datar jarak tanam yang dapat digunakan adalah 100 x 100 cm, sedangkan pada daerah miring jarak tanam lebih rapat dalam barisan 100 x 50 cm, 125 x 75 cm, 125 x 50 cm, dengan tujuan dapat mengatasi irosi bila hujan turun.

    D. Pemupukan
               Pemupukan adalah pemberian zat - zat makanan kepada tanaman lewat tanah agar produksi hijauan tinggi dan continue. Pupuk yang dapat digunakan antara lain, urea, TSP dan KCL, dengan takaran 100 kg urea, 50 kg TSP, 50 kg KCL / Ha dan pupuk kandang dengan takaran 10 s.d 20 ton/Ha yang tergantung pada tingkat kesuburan tanah.
               Pemberian pupuk kandang dilakukan pada saat tanam, yang diaduk dengan tanah dalam lobang tanam dengan takaran yang telah ditentukan, kemudian setelah hiajauan berumur 3 minggu dilakukan pemupukan dengan pupuk kimia.
               Dari beberapa hasil pengamatan pemberian pupuk kandang pada saat tanam akan lebih baik jika dibandingkan dengan pemberian secara bertitah dengan takaran yang sama, sedangkan pemberian pupuk kandang berikutnya setelah hijauan berumur 6 bulan atau sekitar 4 kali panen, untuk menjamin produksi secara continue. Pupuk kandang sangat baik dalam dekomposisi hara dalam tanah.

    E. Penyiangan
                Penyiangan adalah pemberantasan terhadap janis - jenis rumput liar atau tumbuh - tumbuhan pengganggu tanaman pokok. Gangguan dapat berupa saingan dalam memperoleh zat hara, air dan cahaya matahari. penyiangan dapat dilakukan setelah hijauan berumur 1 bulan. Pada dasarnya ada cara untuk melakukan penyiangan yaitu:
    1. Mekanis
    Yakni penyiangan dengan cara mencangkul untuk membongkar rumput - rumput liar dan tanaman pengganggu.
    2. Biologis
    Yakni dengan cara memperbaiki keadaan tanah. Kemudian setelah tanah itu menjadi subur dan bebas weed, dilakukan penanaman dengan jenis tanamana pupuk hijau sebagai penutup tanah seperti : Centrosema plumeri, Puraria Javanica, Calopogonium mucunoides dll.
    3. Kimiawi
    Biasanya dengan menggunakan hernisida. Cana ini lebih cepat tetapi biaya cukup tinggi, selain itu penggunaan herbisida sering membawa dampak segatif karena semprotan herbisida dapat mematikan hijauan yang ditanam, dan residunya juga berbahaya bagi ternak.

    F. Pemotongan
                   Untuk menyeragamkan pertumbuhan dan merangsang anakan yang lebih banyak, sebaiknya pemotongan pertama dilakukan pada saat hijauan berumur 2 - 3 bulan setalah tanam, pemotongan selanjutnya setelah 40 - 60 hari. Pemotngan yang terlalu tua akan mengakibatkan kulitas HPT berkurang (protein turun dan serat kasar naik). Tinggi pemotongan juga mempengaruhi pertumbuhan selanjutnya. Pemotongan yang terlalu tinggi akan mengakibatkan tunas yang keluar tumbuhnya kerdil, dan pertumbuhan dari anakan tidak ada, Sedangkan pemotongan yang terlalu pendek menyebabkan pertumbuhan berikutnya semakin lambat karena persediaan energi (pati) didalam tunggul hanya sedikit. Sebagai pedoman untuk pemotongan rumput gajah, raja, setaria dan benggala dianjurkan 10 cm dari permukaan tanah, sedangkan untuk rumput dari australia seperti Paspalim dilatatum pemotongan sekitar 5 cm dari permukaan tanah.

    Rabu, 03 April 2013

    merawat kambing


    Merawat Kambing


    1. Merawat Kambing Dewasa
                            Perawatan kambing dewasa baik betina maupun pejantan sangatlah penting agar produksi ternak kambing dapat optimal. Perawatan induk akan mempengaruhi calving interval kelahiran dan kualitas anak kambing lepas sapih yang dihasilkan. Perawatan pejantan yang baik akan mempengaruhi libido dan kualitas sperma yang dihasilkan. Berikut ini cara merawat kambing dewasa secara umum:
    a. Perawatan badan
                Perawatan badan yang perlu dilakukan antara lain:
    Ø Memandikan ternak secara berkala, tujuannya agar daki dan kotoran (feces) yang menempel di kulit bersih, karena kotoran dikulit dapat menupupi pori pori yang menyebabkan keluarnya keringat terganggu yang akhirnya mengganggu peredaran darah. Selain itu kotoran dan daki merupakan tempat berkembangnya bakteri yang akan menyebabkan penyakit kulit.
    Ø Pemotongan bulu yang menggumpal, bulu ini biasanya menjadi tempat berkembangnya bakteri yang akan mengganggu kesehatan kulit
    b.  Perawatan kuku
    Pemotongan kuku, Kuku kambing yg tdk terpelihara sangat mengganggu; kedudukan tulang tracak menjadi salah, titik berat badan kambing jatuh pada tracak bagian belakang, bentuk punggung seperti busur, mudah terjangkit pnyakit kuku. Pemotongan dilakukan pd bagian lapisan tanduk pada telapak kaki sampai menjadi rata atau sedikit cekung.

    1.1. Merawat Kambing Bunting
    Mengenali kambing yang bunting dari fisik pada awal kebuntingan tidaklah mudah. Langkah awal yang dapat dilakukan oleh peternak secara umum adalah memperhatikan siklus birahi (estrus / heating) dari kambing tersebut. Jika dalam 21 hari setelah dikawinkan, kambing betina tidak birahi lagi maka kemungkinan besar kambing tersebut bunting.
                Beberapa referensi di buku dan internet tidak pernah melakukan pembedaan ciri-ciri kebuntingan kambing  betina yang masih dara dengan yang sudah beranak. Rata-rata referensi yang ada menganggap semua sama. Padahal kebuntingan kambing  yang masih dara lebih sulit dikenali daripada kambing yang sudah pernah beranak.
    a. Mengenal Kebuntingan Kambing Dara
    Secara fisik kambing yang baru bunting pertama kali (dara) lebih sulit dikenali kebuntingannya dibandingkan kambing yang sudah pernah beranak. Dalam 3 bulan pertama kambing dara yang bunting belum menampakkan perbedaan fisik yang nyata. Ukuran ambing kambing dara yang masih kecil membuat sulit untuk menentukan apakah kambing dara tersebut sedang bunting atau tidak.
    Beberapa ciri kambing dara yang bunting:
    1.  Kambing lebih tenang, jinak dan tidak gelisah
    2.  Kulit menjadi agak kendor atau lemas
    3.  Pusar diperut melebar
    4.  Bulu menjadi rontok dan agak mengkilap
    5.  Nafsu makan bertambah sehingga badan agak gemuk.
    Setelah usia kebuntingan 3 bulan kambing dara yang bunting lebih mudah dikenali dari perubahan badannya. Perut kambing membesar seiring usia kebuntingan yang semakin tua.
    b.  Mengenal Kebuntingan Kambing yang Pernah Beranak
    Kambing yang pernah beranak lebih mudah dikenali kebuntingannya daripada kambing dara. Pada umur kebuntingan dibawah 2 bulan (8 minggu), kambing yang sudah beranak sudah dapat dideteksi kebuntingannya.
    Beberapa ciri kambing bunting:
    Ø  Ambing susu membesar. Jika diperah keluar cairan bening dan lengket di kulit. Pada umur kebuntingan yang lebih tua, cairan tersebut berubah warna menjadi kuning transparan.
    Ø  Pusar diperut melebar
    Ø  Nafsu makan bertambah. Bisa jadi kambing agak kurus pada saat kebuntingannya. Hal ini terjadi karena kambing tersebut masih dalam keadaan menyusui atau baru lepas menyusui anaknya (cempe).
    Ø  Perut membesar
    Setelah peternak mengenali kambing yang bunting, maka kambing yang bunting memerlukan perhatian yang khusus.
    Setelah mengenali ciri kambing yang bunting, peternak wajib memberikan perhatian khusus kepada kambing tersebut. Perhatian khusus ini meliputi perawatan dan pemberian pakan. Tujuan perhatian khusus ini untuk meminimalisasi terjadinya keguguran (keluron) atau kesulitan proses kelahiran yang mungkin dapat membahayakan kambing.
    Kambing yang bunting harus ditempatkan di kandang yang terpisah agar terhindar dari gangguan kambing yang lain. Kambing yang bunting harus dihindarkan berkelahi dengan sesama kambing, terkena pukulan atau tandukan. Usahakan lantai kandang tidak licin untuk menghidari kambing yang bunting tergelincir. Kandang cukup luas untuk menjaga kambing yang bunting bergerak leluasa. Kandang juga perlu mendapatkan sinar matahari yang cukup tiap hari. Tujuannya agar tubuh kambing yang bunting tetap sehat dan kuat. Tubuh kambing yang sehat dan kuat akan membantu proses kelahiran nantinya.
    Kambing yang bunting dapat dikeluarkan sesekali dari kandang (tidak terlalu sering) untuk dijemur. Hati-hati dalam mengeluarkan kambing yang bunting dari kandang. Jangan sampai kambing terjatuh atau meloncat secara tiba-tiba yang dapat membahayakan kandungan. Aktivitas kambing yang bunting diluar kandang juga perlu diawasi terutama jika ada kambing lain yang berinteraksi. Meskipun kambing yang bunting lebih jinak dan tenang, tidak gesit atau lincah, ada baiknya peternak waspada.
    Hindarkan suasana ramai atau gaduh yang dapat mengakibatkan kambing yang bunting menjadi stress. Stress pada kambing yang bunting dapat mengakibatkan keguguran (keluron).
    c. Pemberian Pakan Kambing Bunting
    Pakan yang dibutuhkan kambing yang bunting otomatis bertambah kuantitasnya seiring dengan umur kebuntingan. Peningkatan baik kuantitas maupun kualitas pakan diberikansecara bertahap mulai 8-14 minggu setelah awal kebuntingan. Hal ini dikarenakan janin (fetus) semakin cepat tumbuh sehingga memerlukan pasokan makanan bergizi yang semakin banyak. Selain itu kalenjar susu kambing mulai memproduksi susu untuk mempersiapkan kelahiran anaknya. Produksi susu ini ditandai dengan bentuk ambing yang membesar. Jangan memberikan pakan yang terlalu berlebihan pada kambing yang bunting terutama pada induk yang muda. Pemberian pakan yang berlebihan dapat menyebabkan janin terlalu besar sehingga kesulitan dalam proses kelahirannya.
    Pemberian pakan hijauan yang berkualitas diberikan secukupnya sesuai dengan selera kambing. Tidak disarankan pemberian pakan daunan yang banyak mengandung getah seperti daun kapuk, daun waru dan daun singkong. Daun yang banyak getah umumnya banyak mengandung kadar air tinggi. Kadar air yang tinggi mengakibatkan kambing yang bunting menjadi sering berkemih atau kencing. Posisi kambing yang berkemih mengakibatkan kontraksi (mengejan / mengeden) pada kambing. Dikhawatirkan untuk kambing yang kandungannya lemah bisa mengalami keguguran.
    Pemberian pakan tambahan atau konsentrat diberikan secukupnya tidak terlalu sering. Pemberian dapat diberikan 1-2 kali dalam seminggu. Rata-rata 0.5 – 1 kg sudah mampu mencukupi kebutuhan kambing bunting. Pada masa ini lebih diutamakan pemberian hiajuan daripada konsentrat. Dengan alasan yang sama seperti daun bergetah, beberapa peternak tidak menyarankan pemberian konsentrat yang mengandung kadar air yang tinggi seperti ampas tahu.

    1.2. Merawat Kambing Menyusui
    Setelah melahirkan maka seekor induk kambing akan masukpada fase menyusui, segera setelah beranak bersihkan induk dari sisa – sisa kelahiran agar tidak terjadi infeksi, pada saat itu kondisi rahim masih belum normal dan mengecil menjadi ormal sekitar dua minggu setelah melahirkan.
    Tempatkan induk menyusui dalam kandang individu agar anak tidak terganggu kambing lain dan usahakan kandang cukup luas agar induk dan anak bebas bergerak. Kandang juga harus terkena sinar matahari yang cukup agar induk dan anaknya sehat.
                Induk menyusui membutuhkan nutrisi yang paling banyak jika dibandingkan dalam fase fisiologis yang lainnya. Hal ini karena selain untuk kebutuhan pokok hidup induk juga memerlukan nutrisi untuk produksi susu bagi anak – anaknya dan juga untuk memperbaiki kondisi tubuhnya setelah melahirkan ke kondisi yang normal.
                Berikut yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan untuk kambing menyusui:
    Ø  Mengandung protein kasar 14 – 16 %
    Ø  Berikanlah hijauan dalam jumlah tak terbatas ( ad libitum )
    Ø  Pakan tambahan (Konsentrat) dengan kandungan protein kasar 14 – 16% sebantak 0.5 s.d 1 kg perhari.
    Ø  Air merupakan komponen pakan yang sangat penting sehingga ketersediaannya harus secara bebas (ad libitum)
    Ø  Sangat baik bila diberi tambahan mineral blok untuk mengatasi kekurangan mineral dalam pakan.

    1.3. Merawat Pejantan
               Secara umum perawatan pejantan tidak berbeda dengan merawat kambing dewasa pada umumnya, meliputi perawatan tubuh dan perawatan kuku.
    Pejantan yang sehat mampu melayani 20 s.d 30 ekor betina, akan tetapi bila pejantan tidak dirawat dengan baik maka libido dan kualitas sperma yang dihasilkan juga kurang baik.  .
                    Di Indonesia tidak mengenal musim kawin untuk ternak kambing, sehingga seekor pejantan harus selalu siap sepanjang  tahun. Untuk itu pejantan harus mendapat pakan yang cukup dan berkualitas, hijauan segar yang diberikan hendaknya terdiri dari campuran rumput,legume,dan dedaunan lainnya sebanyak 10-15% dari berat badan (5-7 kg/ekor/hari), hijauan ini sebaiknya di cacah agal pemanfaatannya lebih mudah dan efisien. Pemberian pakan tambahan (konsentrat) disarankan 0,5-1 kg/hari/ekor, perlu diingan bahwa pejantan tidak boleh terlalu gemuk karena akan menurunkan libidonya.
    Perlu diingat bahwa seekor pejantan tidak boleh terlalu gemuk karena akan menurunkan libidonya, untuk itu penting bagi pejantan untuk exercise (olah raga)  agar kondisi tubuhnya tetap terjaga..

    2. Merawat Anak Kambing
    2.1. Proses Kelahiran
                Lama Kebuntingan bagi kambing adalah 150 hari (5 bulan). Menjelang kelahiran keadaan kandang harus bersih dan diberi alas yang kering dan bersih agar cairan yang keluar pada saat kelahiran dapat langsung diserap, bahan yang digubakab dapat berupa karung goni atau jerami kering. Obat yang dipersiapkan adalah yodium untuk dioleskan pada bekas potongan pusar.  
                Induk kambing yang akan melahirkan dapat diketahui melalui perubahan fisik dan perilakunya sebagai berikut:
    Ø  Keadaan perut menurun.
    Ø  Ambing membesar dan putting susu terisi penuh.
    Ø  Alat kelamin membengkak berwarna kemerah – merahan dan lembab.
    Ø  Pinggul mengendur
    Ø  Gelisah, mengaruk – garuk tanah atau lantai kandang dan mengembik.
    Ø  Nafsu makan berkurang
    Ø  Sering kencing.
    Proses kelahiran kambing berlangsung dalam waktu yang cepat, jika anak lebih dari satu kelahiran anak pertama dan berikutnya berlangsung selama 15 – 30 menit.. Proses kelahiran mula – mula ditandai dengan pecahnya kantong ketuban dan beberapa saat kemudian akan Nampak anak keluar, jika setelah 45 menit setelah ketuban pecah dan belum ada tanda – tanda anak lahir berarti ada kelainan dan proses kelahiran harus segera dibantu.
    Langkah – langkah yang harus dilakukan dalam membantu kambing yang kesulitan melahirkan adalah sebagai berikut:
    Ø Alat kelamin dan daerah sekitarnya dibersihkan dengan sabun.
    Ø Bersihkan tangan dan olesi dengan sabun yang lunak sebagai pelumas.
    Ø Masukan tangan dengan menguncup ke dalam alat kelamin kambing secara pelan – pelan dan hati – hati.
    Ø Pastikan posisi bagian bagian tubuh anak kambing seperti kaki, kepala dan bagian lainnya.
    Ø Betulkan posisi yang tidak normal ke posisi yang benar kemudian tarik pelan – pelan.
    Setelah anak kambing (cempe) lahir, ari – ari danlendir yang bercampur darah akan keluar dalam 24 jam setelah kelahiran. Penanganan (cempe) selanjutnya adalah pemotongan tali pusar, bekas luka pemotongan di olesi yodium. Lendir yang terdapat pada lubang hidung cempe dibersihan gar penafasan tidak terganggu. Induk akan menjilati anaknya sampai kering, jika induk tidak menjilati anaknya, cairan yang ada ditubuh cempe dibersihan dengan lap kering dan bersih.
    Kesulitan melahiran yang dialami kambing umumnya disebabkan oleh beberapa factor berikut:
    Ø Posisi anak tidak normal ( misalnya : salah satu kaki depan ke belakang, kepala menengok ke belakang, posisi anak melingkar,posisi anak terbalaik, anak kembar tidak normal).
    Ø Induk memiliki pinggul yang sempit.
    Ø Ukuran tubuh anak terlalu besar
    Ø Anak mati dalam kandungan.
    Ø Kondisi induk tidak sehat. 


    Video Kambing Beranak 

    2.2. Perawatan Cempe dan Induk Yang Baru Melahirkan
                Kondisi cempe yang baru lahir masih lemah dan dalam masa kritis, oleh karena itu cempe yang baru lahir harus dirawat secara inrensif. Selama masa kritis ini cempe sangat peka terhadap lingkungan yang kurang menguntungkan. Perawatan yang harus dilakukan sebagai berikut:
    Ø  Cempe ditempatkan dalam kandang yang bersih, berventilasi baik, sinar matahari pagi dapat masuk kandang, sehingga kandang cukup hangat.
    Ø  Lantai dialasi jerami atau rumput kering dan setiap hari dig anti agar tetap kering dan hangat.
    Ø  Ukuran kandang harus cukup luas agar cempe dapat bermain dengan leluasa.
    Ø  Apabila terjadi hujan terus menerus, kandang diberi lampu agar cempe tidak kedinginan.
    Ø  Bila cempe mengalami kesulitan menyusu harus cepat dibantu agar dapat menyusu.
    Ø  Bila induk kambing mati/ tidak mau menyusui atau produksi susu induk tidak mencukupi  cempe dapat diberi susu buatan, dengan menggunakan dot, diberikan 3 sampai 4 kali perhari. Selain susu buatan dapat juga disusukan kepada induk lain yang menyusui (jika induk mau). Pemberian susu buatan ini dilakukan selama 2 bulan.
    Ø  Cempe diberi rumput muda untuk belajar makan hijauan dan pat pula diberi pakan tambahan berupa dedak atau ampas tahu.

    Untuk merawat induk yang baru melahirkan sebagai berikut:
    Ø  Sediakan air minum yang bersih dalam jumlah yang cukup karena induk kehilangan cukup banyak cairan saat proses melahirkan.
    Ø  Kurangi pemberian ransum berupa konsentrat agar tidak terjadi pembesaran pada ambing, pemberian konsentrat dapat ditingkatkan lagi 10 hari setelah melahirkan.
    Ø  Kemaluan dan sekitarnya yang terkena lender maupun darah dibersihkan dengan air hangat agar tidak mudah terinfeksi.
    Ø  Berikan pakan berupa rumput/dedaunan dan leguminosa.

    Meskipun cempe bersama induknya cukup terjaga, pengawasan terhadap kesehatan harus tetap diperhatikan karena cempe sangat peka terhadap infeksi. Penyakit dapat dicegah dengan perawatan dan pakan yang terseleksi
    Penyakit diare biasanya terjadi pada cempe usia 2 – 3 minggu, sumbernya dapat melalui tali pusar maupun mulut. Diare merupakan gangguan pencernaan dari diare yang biasa sampa yang berdarah, penyebabnya adalah protozoa, cacing dan bakteri yang bisa masuk melalui ambing atau puting susu induk yang kotor. Jika tidak disebabkan oleh protozoa, cacing maupun bakteri diare dapat disebabkan oleh:
    Ø  Makan hijauan yang berlebihan
    Ø  Air susu induk terlalu tinggi kadar lemaknya
    Ø  Pemberian pakan yang tidak teratur
    Ø  Perubahan cuaca
    Cempe yang telah mencapai usia 3 bulan sebaiknya disapih (dipisah) dari induknya. Penyapihan cempe dapat diawali pada usia 2,5 bulan dengan cara sehari menyusu pada induk sehari kemudian tidak menyusu, lalu shari menyusu dan dua hari tidak menyusu, demikian seterusnya hingga akhiran cempe sama sekali tidak menyusu pada induknya. Setelah disapih anak kambing dapat dikandangkan secara berkelompok dengan anak kambing lain yang sebaya.

    2.3. Merawat Cempe Pasca Sapih
                Setelah cempe berusia 3 – 6 bulan dan sudah disapi dari induknya memerlukan tatalaksana pemeliharaan khusu yaitu, dengan memberikan sedikit demi sedikit hijauan yang berkualitas baik, pemberian rumput secara bertahap, pemberian pakan penguat (konsentrat ) dalam bentuk bubur atau dicampur dengan air panas cukup sekali sehari.
                Cemep dipelihara dalam kandang kelompok dengan cempe lain yang sebaya untuk memudahkan pengelolaan dan pengawasan kesehatannya.

    2.4. Merawat Kambing Muda
                Mulai usia 6 – 15 bulan anak kambing sudah digolongkan sebagai kambing muda yang memerlukan pemeliharaan trsendiri pula. Pada usia ini kambing harus sudah dipisahkan antara yang jantan dan betina. Agar dapat melatih otot – otot tubuh sebaiknya kambing jangan dikandangkan terus menerus, seminggu atau dua minggu sekali kambing – kambing tersebut dilepaskan untuk exercise dan belajar merumput sendiri di padang gembala.
                Pakan yang diberikan dapat berupa rumput dan makanan penguata (konsentrat). Pada fase ini kambing mulai dapat diseleksi yang akan dijadikan calon induk dan calon pejantan yaitu dengan memilih yang baling bagus dalam kelompknya.

    Entri yang Diunggulkan

    BANGSA BANGSA TERNAK BABI

                Pembangunan petrnakan merupakan bagia pembangunan nasional yang penting, karena salah satu tujuan pembangunan peternaka...